Kenaikan berat badan hingga 26 kg, Amanda jujur soal rasa tidak percaya diri
JAKARTA — Amanda Manopo kini tengah memasuki usia kehamilan trimester ketiga. Seiring bertambahnya usia kehamilan, perubahan fisik terasa makin nyata, dan Amanda mengaku ia mengalami pergeseran yang cukup mencolok pada tubuhnya.
Dalam kesempatan berbincang, Amanda menyampaikan bahwa sejak hamil, berat badannya naik sampai 26 kilogram. Ia bahkan terang-terangan menyebut kondisi itu membuatnya merasa insecure. Bukan karena ia tidak bersyukur, tapi karena tubuhnya mengalami perubahan yang tidak selalu mudah diterima secara instan.
“Sejak hamil, berat badanku itu naik 26 kilogram. Insecure banget sebenarnya,” ujar Amanda Manopo dalam obrolan yang dikutip dari kanal YouTube C8 Podcast pada Selasa, 21 April 2026.
Tidak semua aktivitas bisa pakai sepatu favorit
Kenaikan bobot badan tersebut berdampak langsung pada rutinitas harian. Amanda mengungkapkan bahwa ia jadi tidak bisa lagi memakai alas kaki sembarangan seperti sebelumnya.
Menurutnya, kini ia hanya nyaman menggunakan sandal jepit untuk beraktivitas. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan—baginya, ini jadi bentuk penyesuaian agar tetap bergerak dengan nyaman sambil menjalani kehamilan yang makin memasuki fase berat.
Di sela ceritanya, Amanda terlihat mencoba menyiasati situasi tanpa menyalahkan kondisi tubuh. Ia memilih fokus pada hal yang bisa ia kendalikan, yakni memilih kenyamanan untuk menunjang aktivitas.
Ukuran pakaian ikut berubah, kini berganti ke XL
Selain alas kaki, Amanda juga mengakui ukuran pakaian yang ia kenakan ikut berubah drastis. Ia menyebut saat ini dirinya harus mengenakan ukuran XL.
Sebelum hamil, Amanda biasanya memakai ukuran S atau M. Perbedaan ukuran itu membuatnya menyadari bahwa perubahan tubuhnya bukan hal kecil, melainkan sesuatu yang benar-benar terasa di keseharian.
Amanda tidak menutupi bahwa perubahan ukuran ini memicu rasa tidak percaya diri. Terlebih ketika ia mencoba melihat bentuk tubuhnya sendiri lewat cermin, perasaan insecure sering datang menghampiri.
Insecure datang saat bercermin, tapi Amanda berusaha menguatkan diri
Amanda mengaku rasa tidak percaya diri itu kadang muncul begitu ia bercermin. Ia merasakan perasaan yang campur aduk—antara kesadaran bahwa itu wajar terjadi, dan rasa tidak nyaman melihat perubahan yang terlihat jelas.
Namun Amanda juga berusaha meyakinkan diri bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari proses kehamilan. Ia mencoba memahami bahwa tumbuh kembang dan perubahan tubuh pada ibu hamil adalah sesuatu yang normal.
Dari cara Amanda bercerita, terlihat ia sedang melakukan proses mental: menerima perubahan, menenangkan pikiran, dan menata harapan bahwa dirinya akan baik-baik saja menjalani kehamilan.
Trik sederhana: memilih yang nyaman, bukan yang harus “sempurna”
Yang menarik, Amanda tidak berhenti pada keluhan saja. Ia juga menunjukkan sikap praktis, yaitu menyesuaikan gaya hidup. Sandal jepit jadi pilihan, pakaian ukuran XL jadi penanda bahwa tubuhnya punya “aturan baru.”
Ia seolah ingin bilang bahwa ibu hamil tidak selalu harus terlihat mengikuti standar sebelum hamil. Fokusnya bergeser: yang paling penting adalah bisa bergerak nyaman, tetap menjalani aktivitas, dan tidak memaksa tubuh.
Di bagian ini, Amanda memberi gambaran bahwa kehamilan bukan perjalanan yang mulus setiap saat. Ada hari-hari ketika insecure terasa besar, tapi ada juga momen ketika ia berusaha tetap kuat.
Mengelola ekspektasi diri saat berat naik
Amanda juga menyampaikan bahwa perubahan drastis bisa memunculkan pikiran negatif. Ia menyadari, saat berat badan bertambah, tubuh memang akan berubah bentuk, dan itu sering memicu ekspektasi yang tidak realistis dari diri sendiri.
Namun ia berusaha memegang kendali dengan cara menerima. Meski insecure datang, ia mencoba menempatkan perasaan itu pada porsinya: sebagai sensasi sementara, bukan sebagai vonis bahwa ia “tidak layak” atau “tidak cocok.”
Dengan begitu, Amanda tampak mencoba melatih pikiran untuk tidak langsung menjatuhkan diri.
Rasa insecure tidak otomatis berarti menolak kehamilan
Dari keseluruhan cerita, Amanda tidak terdengar sedang menolak proses kehamilannya. Yang ia bahas lebih ke kondisi mental saat menghadapi perubahan fisik yang cukup signifikan.
Insecure, dalam penuturannya, muncul sebagai respons emosional terhadap perubahan yang terlihat di cermin. Tapi ia tetap meyakinkan diri bahwa ini bagian dari perjalanan menjadi ibu.
Poin ini penting, karena banyak orang mungkin mengira ibu hamil pasti “harus bahagia” setiap waktu. Padahal kenyataannya, perubahan tubuh bisa memicu banyak perasaan yang tidak selalu positif.
Saat tubuh berubah, cara berpenampilan ikut menyesuaikan
Bukan cuma ukuran, cara Amanda memilih pakaian juga mengalami penyesuaian. Ia kini menggunakan ukuran yang lebih sesuai dengan bentuk tubuhnya saat ini.
Momen seperti ini sering jadi bagian paling menegangkan bagi sebagian perempuan: ketika pakaian favorit tidak lagi muat, lalu harus mengganti kebiasaan.
Namun Amanda menunjukkan bahwa ia memilih untuk mengikuti kondisi, bukan melawan. Ia menerima bahwa tubuhnya sedang bekerja untuk membawa bayi, sehingga ia butuh dukungan dan kenyamanan.
Amanda tetap bergerak dan beraktivitas walau tidak selalu nyaman
Walaupun mengaku insecure, Amanda tetap menjalani rutinitas. Ia menyebut bahwa sandal jepit membantu untuk bergerak ke mana-mana. Artinya, kehamilan tidak membuatnya berhenti beraktivitas sepenuhnya.
Amanda mencoba mengatur penampilan dan alas kaki agar tetap bisa menjalani hari-hari seperti biasa, meskipun dengan penyesuaian. Dari sini, ia terlihat ingin tetap produktif sambil menjaga kenyamanan.
Penutup: “wajar,” kata kunci untuk menenangkan diri
Pada akhirnya, inti dari cerita Amanda adalah penerimaan. Ia memang merasa insecure karena berat badannya naik hingga 26 kilogram sejak hamil, dan ukuran pakaiannya ikut berubah menjadi XL.
Namun Amanda juga berusaha memberi pengertian kepada diri sendiri bahwa perubahan ini wajar dialami ibu hamil. Ia ingin orang memahami bahwa kondisi fisik bisa berubah cepat saat trimester ketiga, dan rasa tidak percaya diri bisa datang tanpa aba-aba.
Cerita Amanda menjadi pengingat bahwa kehamilan bukan panggung untuk tampil sempurna, melainkan proses yang kadang membuat emosi naik turun—dan itu tetap manusiawi.
