Keputusan untuk buka suara karena luka makin dalam
JAKARTA—Fuji Utami mengaku sempat berada di titik mental yang sangat berat setelah kasus yang menimpa dirinya bergulir. Menurut Fuji, guncangan yang ia rasakan bukan hanya soal kerugian materi, melainkan juga rasa dikhianati oleh orang yang ia anggap dekat.
Ia menyampaikan bahwa ada pihak yang sebelumnya memiliki akses ke kehidupan digitalnya. Bagi Fuji, itu membuat luka terasa berbeda dibanding sekadar kehilangan uang. “Ini bukan sekadar duit doang,” ujarnya, sambil menekankan bahwa urusan privasi ikut terbawa.
Fuji juga menegaskan bahwa ia mengalami dampak besar pada kondisi psikologis. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk menghubungi psikiater, tetapi rencana itu tidak berjalan karena guncangan yang ia rasakan terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
Privasi bocor, chat pribadi jadi bahan tertawaan
Dalam keterangannya di Polres Metro Jakarta Selatan pada Senin, 20 April 2026, Fuji menjelaskan adanya tindakan yang ia anggap melampaui batas. Ia menyebut mantan admin media sosialnya sempat menyebarkan privasi berupa chat pribadi yang seharusnya tidak dikonsumsi publik.
Fuji menyoroti bahwa terduga pelaku punya akses ke akun Instagram pribadinya serta TikTok. Menurut Fuji, chat-chat pribadi tersebut tidak hanya disimpan, tapi diambil, lalu discreenshot dan kemudian disebarluaskan agar menjadi bahan canda dan ejekan.
Di momen itulah Fuji merasa dikhianati, karena ia tidak hanya kehilangan kontrol atas akun, tetapi juga kontrol atas hal-hal yang bersifat personal dan seharusnya aman. Ia menuturkan bahwa penyebaran itu membuatnya menjadi target hinaan dari banyak orang.
Fuji juga menekankan dampak yang ia rasakan setelah kabar tersebut beredar. Bukan cuma karena orang lain membaca atau melihat, tetapi karena pesan-pesan yang ia anggap rahasia berubah menjadi “bahan ketawa-ketawaan” dan alat untuk merendahkan dirinya.
Mental sempat runtuh, niat menemui psikiater batal
Fuji mengungkap bahwa kondisi mentalnya benar-benar drop. Ia menyampaikan bahwa dirinya sempat merasa seperti “nyaris” tidak sanggup menahan beban emosi.
Ia bercerita, ia sempat ingin menghubungi psikiater untuk mencari bantuan. Namun, ketika tekanan dan rasa sakit yang ia alami berbarengan dengan situasi yang tidak berhenti, ia mengaku rencana itu tidak jadi terlaksana. “Kepala saya sudah penuh,” kira-kira begitulah gambaran yang ia sampaikan, bahwa pikirannya sulit kembali stabil.
Bagi Fuji, yang membuatnya begitu terguncang adalah karena pelaku memiliki akses ke kehidupan digitalnya. Artinya, pelaku tidak hanya bergerak di ranah administrasi, tapi sampai ke ruang personal yang seharusnya tidak boleh disentuh sembarangan.
Fuji juga menyinggung bahwa luka itu muncul karena ada unsur kepercayaan yang dipatahkan. Ia merasa orang yang memiliki kedekatan dan akses itu justru menggunakan akses tersebut untuk hal yang mempermalukan dirinya.
Dalam pembicaraannya dengan aparat, Fuji menggambarkan hal ini sebagai pukulan ganda: ada kerugian dan ada penghancuran privasi yang membuat mentalnya makin tidak berdaya.
Ada upaya “membuat musuh”—situasi makin panas
Fuji mengatakan kondisi yang ia alami diperparah oleh sikap terduga pelaku yang mencoba memengaruhi orang lain, termasuk karyawan lain agar memusuhinya. Ia tidak menyebut nama pihak-pihak secara rinci dalam cuplikan yang dipaparkan, namun ia menegaskan ada upaya mendoktrin agar situasinya menjadi lebih buruk.
Menurut Fuji, ini menjadi fase yang membuatnya merasa terpojok. Ketika orang-orang di lingkungan kerja ikut diputar narasinya, Fuji merasa ia seolah berhadapan dengan banyak sisi sekaligus.
Dari sudut pandang Fuji, ini membuat proses menghadapi masalah tidak lagi simpel. Awalnya masalah mungkin terlihat seperti urusan dana dan administrasi, tetapi kemudian melebar ke area hubungan, citra, dan keamanan psikologis.
Ia berharap proses hukum bisa berjalan dengan baik agar kebenaran tidak terus ditutup-tutupi oleh cerita yang dibuat sepihak. Di titik ini, Fuji tampak ingin menegaskan bahwa yang ia alami bukan isu remeh, karena efeknya sangat nyata.
Fuji juga menyiratkan bahwa dampak sosial dari kasus ini ikut menambah tekanan harian. Saat publik ikut menilai dan ikut menyebar, rasa bersalah atau bingung yang awalnya mungkin masih bisa ditahan, berubah menjadi beban yang sulit.
Fuji berusaha tetap berdiri meski mental goyah
Meski mengaku sempat nyaris hancur, Fuji tidak terlihat menyerah begitu saja. Ia tetap memberi keterangan dan menjalani proses yang ditangani aparat.
Dari cara ia menyampaikan, terlihat bahwa Fuji berusaha mengembalikan kendali hidupnya perlahan-lahan. Ia ingin ada kejelasan: siapa yang melakukan apa, bagaimana aksesnya, dan kenapa privasi bisa bocor.
Ia juga menegaskan, ia bukan cuma bicara soal emosi. Ia bicara karena ada fakta yang membuatnya merasa dirugikan secara serius. “Saya merasa sangat dikhianati,” inti perasaan yang ia tekankan dalam keterangannya.
Keberanian Fuji untuk menyampaikan hal-hal personal—yang pada dasarnya memalukan untuk diceritakan—memberi sinyal bahwa ia sedang berupaya memotong lingkaran gosip yang terus berputar.
Dalam situasi seperti ini, banyak orang mungkin memilih diam. Namun Fuji memilih tidak diam karena ia menilai kebisuan hanya akan membuat pihak yang salah merasa aman.
Rasa dikhianati karena akses ke akun pribadi
Fuji menyoroti soal akses yang dimiliki terduga pelaku. Menurutnya, seseorang yang punya akses ke akun pribadi tidak seharusnya menggunakan akses itu untuk memancing keributan, apalagi sampai membagikan chat yang bersifat rahasia.
Ia menyebut bahwa screenshot chat pribadi tersebut menjadi bahan bercandaan. Fuji merasa tindakan itu merusak martabatnya. Ia menganggap privasi bukan sekadar hal kecil, melainkan bagian dari keamanan emosional.
Ketika privasi dilanggar, dampaknya bisa panjang. Orang jadi sulit percaya pada siapa pun, apalagi dalam situasi ketika informasi personal beredar dan memicu reaksi publik.
Fuji ingin publik memahami bahwa yang terjadi bukan cuma “terbuka” atau “salah paham”. Baginya, ini adalah tindakan yang disengaja yang mengarah pada penghinaan dan perendahan.
Dengan menjelaskan kronologi dan dampaknya, Fuji mencoba menempatkan kasus ini di jalur yang lebih jelas, bukan sekadar isu viral yang cepat hilang.
Proses hukum jadi pegangan agar semua tidak liar
Dalam banyak kasus serupa, rumor bisa cepat tumbuh dan membuat korban makin terpojok. Fuji tampaknya ingin memastikan bahwa yang ia rasakan tidak dibiarkan menjadi bahan spekulasi tanpa akhir.
Ia menyerahkan proses ke pihak berwenang. Dan dari penuturannya, ia berharap keterangan yang ia sampaikan bisa membantu penyelidikan dan memperjelas fakta-fakta di lapangan.
Bagi Fuji, proses hukum adalah cara untuk memulihkan rasa aman, meski ia tahu pemulihan mental tidak terjadi semudah memindahkan kasus dari media sosial ke ruang sidang.
Ia juga menegaskan bahwa ini menyangkut privasi dan psikologis. Jadi, tidak hanya uang yang dihitung, tapi juga dampak yang membuat hidupnya berubah.
Pada momen seperti ini, korban memang membutuhkan waktu untuk pulih. Tetapi dengan langkah yang sudah dilakukan, Fuji terlihat berusaha mengunci masalah supaya tidak terus melebar ke ruang yang tidak terkendali.
Percakapan publik memperparah luka psikologis
Fuji juga memotret bagaimana peredaran chat pribadi di ruang publik membuat luka makin terasa. Saat orang lain menertawakan atau mengejek, yang tadinya mungkin bisa ditahan berubah menjadi gangguan emosi yang mengganggu keseharian.
Fuji mengisyaratkan bahwa bukan sekadar komentar, melainkan rangkaian ejekan yang muncul karena chat pribadi disebarkan. Hal itu membuatnya merasa tidak dihormati.
Dalam kondisi seperti ini, korban sering sulit membedakan mana yang benar dan mana yang dibuat-buat, karena semua saling bersahut-sahutan di dunia maya.
Ketika narasi liar ikut menyusun ulang cerita, korban butuh ketenangan untuk mengembalikan fokus hidup. Fuji tampaknya sedang berusaha ke arah itu, meski ia mengakui mentalnya sempat sangat terguncang.
Penutup: Fuji ingin privasi dan martabatnya dihormati
Akhirnya, Fuji ingin kasus ini dipahami utuh. Ia tidak hanya menyampaikan bahwa ada kerugian, tapi juga bahwa privasi dan chat pribadi sempat disebarluaskan oleh pihak yang ia anggap pernah dekat.
Ia menyatakan kondisi mentalnya sempat hancur sampai merasa nyaris tidak mampu menanggung tekanan. Ia juga mengaitkan itu dengan fakta bahwa pelaku memiliki akses ke akun pribadinya.
Fuji berharap proses hukum bisa mengungkap tindakan yang dilakukan, termasuk upaya mendoktrin pihak lain agar memusuhinya. Bagi Fuji, yang terpenting sekarang adalah ada keadilan dan keamanan yang lebih jelas agar ia tidak terus menjadi sasaran di luar kendalinya.
Pada akhirnya, cerita Fuji adalah pengingat bahwa privasi bukan permainan, dan pelanggaran akses bisa meninggalkan dampak yang sangat panjang.
