Tidak semua hari dunia jam tangan bisa berubah jadi medan perang internet.
Namun itulah yang terjadi ketika Swatch dan Audemars Piguet resmi memperkenalkan “Royal Pop”, kolaborasi paling kontroversial sekaligus paling viral di industri horologi tahun ini.
Dalam hitungan jam, media sosial langsung penuh dengan dua kubu berbeda.
Kubu pertama berisi kolektor luxury watch senior yang marah besar karena merasa nama Audemars Piguet “diturunkan kasta”.
Kubu kedua justru datang dari generasi muda yang menganggap Royal Pop sebagai salah satu rilisan paling keren dan paling berani dalam beberapa tahun terakhir.
Dan di tengah kekacauan itu, Swatch tampaknya hanya tersenyum.
Karena mereka tahu satu hal penting: ketika semua orang ribut membicarakan produk yang sama, hype sudah berhasil diciptakan.
Dari Jam Sultan ke Barang Viral Internet
Audemars Piguet selama ini dikenal sebagai salah satu brand paling eksklusif di dunia jam tangan Swiss.
Royal Oak milik mereka bukan cuma sekadar jam tangan mahal. Produk tersebut sudah berubah menjadi simbol status sosial global. Dipakai rapper dunia, atlet top, miliarder teknologi, sampai selebritas Hollywood.
Harganya pun tidak main-main.
Untuk model standar saja, Royal Oak bisa berada di kisaran ratusan juta rupiah. Sementara versi langka dan limited edition bisa menembus miliaran.
Karena itulah internet langsung meledak ketika AP diumumkan bakal bekerja sama dengan Swatch.
Publik awalnya mengira Swatch akan membuat “Royal Oak murah” untuk pergelangan tangan.
Namun kenyataannya jauh lebih liar.
Swatch Tidak Membuat Jam Tangan Normal
Royal Pop bukan wristwatch biasa.
Produk ini hadir sebagai jam saku modern bergaya wearable fashion yang dipasang menggunakan lanyard kulit premium.
Ya, jam saku.
Keputusan itu langsung memancing perdebatan besar.
Sebagian orang menyebut desainnya aneh.
Sebagian lagi justru menganggap konsep tersebut sangat jenius.
Dan jika dipikir lebih dalam, langkah Swatch sebenarnya cukup masuk akal.
Membuat bracelet ala Royal Oak menggunakan material Bioceramic berisiko terlihat murahan dan bisa merusak aura AP. Karena itu Swatch memilih jalan aman sekaligus kreatif: membuat sesuatu yang berbeda total.
Hasil akhirnya adalah produk yang terasa seperti perpaduan antara luxury watch, aksesori fashion, dan collectible pop-art modern.
Desainnya Terlihat Seperti Mainan Mahal Masa Depan
Salah satu alasan terbesar mengapa Royal Pop langsung viral adalah desainnya yang benar-benar tidak biasa.
Warna-warnanya sangat mencolok.
Ada pink neon, turquoise terang, kuning cerah, hijau menyala, hingga kombinasi pop-art yang lebih mirip sneaker limited edition dibanding jam tangan Swiss tradisional.
Namun meski tampil liar, identitas Royal Oak tetap terasa kuat.
Bezel segi delapan khas AP masih menjadi pusat desain utama. Baut exposed ikoniknya juga tetap dipertahankan.
Dial textured ala Petite Tapisserie bahkan dibuat cukup detail sehingga aura luxury watch masih terasa meski produk ini tampil sangat playful.
Banyak orang akhirnya mulai menyebut Royal Pop sebagai “fashion item disguised as a luxury watch”.
Dan justru itulah daya tarik utamanya.
Mesin Mekanikal Bikin Kolektor Mulai Diam
Awalnya banyak kolektor hardcore menganggap Royal Pop hanya gimmick marketing.
Namun suasana mulai berubah ketika spesifikasinya diumumkan.
Swatch ternyata membekali produk ini dengan movement mekanikal Sistem51 hand-wound.
Bukan quartz biasa.
Langkah itu langsung membuat komunitas horologi mulai melirik lebih serius.
Apalagi jam ini juga dibekali:
- Power reserve hingga sekitar 90 jam
- Kristal safir depan dan belakang
- Exhibition caseback transparan
- Pegas anti-magnetik Nivachron
- Super-LumiNova biru
- Tekstur dial ala Royal Oak
Untuk ukuran produk Swatch, spesifikasi tersebut dianggap sangat mewah.
Banyak penggemar bahkan mulai percaya Royal Pop punya peluang menjadi collectible serius dalam beberapa tahun ke depan.
Harga Retail “Murah”, Tapi Nyaris Mustahil Didapat
Di atas kertas, harga resmi Royal Pop sebenarnya masih cukup masuk akal.
Versi Lépine dijual sekitar USD 400 atau setara Rp6,5 jutaan.
Sedangkan versi Savonnette berada di angka sekitar USD 420 atau sekitar Rp6,8 jutaan.
Masalahnya, mendapatkan produk ini dengan harga retail kemungkinan besar bakal sangat sulit.
Antrean mulai terlihat di berbagai negara bahkan sebelum toko resmi dibuka. Banyak orang rela camping sejak malam demi mendapatkan nomor antrean.
Fenomena ini langsung mengingatkan publik pada chaos MoonSwatch beberapa tahun lalu.
Namun kali ini skalanya terasa lebih brutal karena nama Audemars Piguet punya status yang jauh lebih eksklusif dibanding kolaborasi Swatch sebelumnya.
Pasar Resale Diprediksi Langsung “Gila”
Komunitas reseller juga bergerak sangat cepat.
Jasa titip dari Singapura, Jepang, hingga Eropa mulai dibuka bahkan sebelum produk resmi tersedia di toko.
Di Indonesia sendiri, harga pasar sekundernya diprediksi langsung melonjak tajam hanya dalam hitungan hari.
Untuk model standar, harga resale diperkirakan berada di kisaran Rp12 juta hingga Rp18 juta.
Sedangkan model warna paling langka diprediksi bisa menyentuh Rp25 juta sampai Rp30 juta jika stok global ternyata terbatas.
Beberapa kolektor bahkan mulai membandingkan hype Royal Pop dengan sneaker-sneaker kolaborasi Travis Scott atau Rolex model hype tertentu.
Dunia Horologi Tidak Akan Sama Lagi
Royal Pop mungkin bukan jam tangan terbaik yang pernah dibuat.
Tetapi sebagai simbol budaya modern, produk ini sudah berhasil melakukan sesuatu yang sangat penting: membuat dunia kembali ribut membicarakan jam tangan.
Di era ketika perhatian publik semakin pendek dan industri luxury mulai terlihat terlalu serius, Swatch justru datang membawa kekacauan yang penuh warna.
Dan lewat AP x Swatch Royal Pop, batas antara luxury watch, fashion streetwear, dan kultur internet kini benar-benar mulai menghilang.
