Dhani melihat hujatan netizen sebagai risiko yang wajar untuk figur publik
Ahmad Dhani mengaku punya cara sendiri ketika menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman di media sosial. Ia menilai, sebagai anak dari figur publik, Shafeea Ahmad memang tidak akan lepas dari sorotan banyak orang.
Dalam kondisi seperti itu, komentar negatif dari warganet biasanya datang silih berganti. Ada yang menilai terlalu cepat, ada pula yang melontarkan kritik tanpa memahami konteks.
Dhani kemudian memilih pendekatan yang menurutnya lebih menenangkan: memberi pengertian kepada putrinya agar tidak mudah terpukul dengan serangan-serangan di dunia maya. Ia tidak menutup mata bahwa komentar buruk bisa saja terjadi, tetapi ingin Shafeea tetap punya pegangan.
Pengertian yang Dhani tekankan: netizen itu beragam
Saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Dhani menyampaikan pesan yang cukup jelas. Ia mengajak Shafeea untuk memaklumi bahwa karakter pengguna media sosial itu tidak seragam.
Dhani menilai ada netizen yang beradab, namun ada juga yang tidak memiliki adab saat berkomentar. Baginya, perbedaan itu perlu dipahami sejak awal, supaya Shafeea tidak menganggap semua hujatan adalah “kebenaran” atau penilaian personal.
Menurut Dhani, cara pandang seperti itu akan membantu mental Shafeea tetap stabil. Ia seolah ingin menggeser fokus dari “kenapa orang ngomong begitu” menjadi “kenapa dunia maya memang tidak selalu berjalan dengan etika yang sama”.
Dhani mengaitkan perilaku netizen dengan latar pendidikan
Lebih lanjut, Dhani menyampaikan bahwa perilaku netizen sering mencerminkan latar belakang pendidikan dan etika mereka masing-masing. Dengan kata lain, cara orang menulis komentar bisa jadi gambaran dari bagaimana mereka dibentuk dan dididik.
Pernyataan Dhani ini terdengar seperti upaya mengembalikan hujatan pada akar persoalannya, bukan pada nilai diri Shafeea. Ia ingin Shafeea tidak merasa serangan netizen adalah cerminan dirinya.
Kalimat-kalimat seperti itu biasanya dibutuhkan ketika seseorang sedang berada di situasi yang ramai dibicarakan publik. Apalagi, Shafeea tidak hanya menjadi individu biasa, melainkan juga memiliki nama yang sudah dikenal.
Percakapan Dhani dengan Shafeea dibangun lewat pengertian, bukan perdebatan
Cara Dhani “membentengi” Shafeea tidak dilakukan dengan gaya berkelahi atau meladeni komentar satu per satu. Ia cenderung menggunakan metode penjelasan yang berulang, sehingga Shafeea bisa menangkap logika di balik respons warganet.
Dalam situasi seperti ini, banyak orang biasanya terpancing emosi karena merasa diserang. Namun Dhani ingin Shafeea memandang komentar netizen sebagai sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Itu sebabnya, fokus percakapan Dhani lebih ke bagaimana Shafeea merespons, bukan bagaimana membalas. Ia menempatkan mental sebagai prioritas agar Shafeea tetap bisa menjalani aktivitas dengan nyaman.
Dhani berharap Shafeea bisa menjaga jarak dari opini yang tidak sehat
Walau Dhani memahami sorotan akan terus ada, ia tetap ingin Shafeea punya batas. Batas itu bukan berarti menutup diri, melainkan memilah mana masukan yang layak dipertimbangkan dan mana hujatan yang hanya keluar dari emosi.
Media sosial sering membuat orang merasa semua orang berhak menilai. Namun Dhani memandang penilaian itu tidak selalu berdasar.
Dengan pembekalan seperti ini, Shafeea diharapkan tidak larut. Ia tidak perlu menganggap setiap komentar negatif sebagai fakta yang perlu ditelan mentah-mentah.
Hikmah yang Dhani tekankan: tidak semua suara di internet punya bobot
Dunia maya kadang memberi ilusi bahwa semua komentar itu sama validnya. Padahal, kenyataannya tidak begitu. Banyak hujatan muncul karena orang ingin terlihat paling keras, bukan paling benar.
Dhani seolah ingin Shafeea memahami “skala” dari komentar yang muncul. Ada suara yang mungkin konstruktif, ada pula yang hanya pelampiasan.
Kalau Shafeea bisa memilah, maka mentalnya akan lebih kuat. Ia tidak akan gampang goyah hanya karena satu unggahan atau satu unggahan ulang yang memancing kebencian.
Dhani melihat sorotan sebagai bagian dari profesi dan keluarga
Dhani juga menyadari bahwa Shafeea lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan dunia hiburan. Akibatnya, setiap gerak bisa menjadi bahan diskusi.
Hal ini memang tidak bisa dihindari sepenuhnya. Bahkan ketika seseorang berusaha menjaga sikap, masih saja muncul komentar negatif. Di sinilah penguatan mental diperlukan.
Ia tidak menempatkan Shafeea dalam posisi “harus selalu benar”. Sebaliknya, Dhani ingin Shafeea punya cara untuk tetap sehat secara emosional, walaupun pendapat orang lain tidak selalu baik.
Penutup: pesan Dhani jadi pengingat agar Shafeea tetap tegar
Pada intinya, pesan Dhani kepada Shafeea adalah ajakan untuk memaklumi beragamnya karakter netizen. Ada yang beradab, ada yang tidak.
Dhani juga menghubungkan perilaku warganet dengan latar pendidikan dan etika. Dengan pemahaman itu, Shafeea diharapkan tidak mudah terdampak hujatan.
Di tengah arus opini yang sering liar, Dhani ingin Shafeea tetap berdiri di tempat yang aman: tidak terjebak, tidak terpancing, dan tetap fokus pada diri sendiri.
