Bagi banyak orang, awal tahun biasanya menjadi momen untuk mengganti ponsel lama. Namun, bagi calon pembeli HP Xiaomi, awal 2026 justru datang dengan kejutan. Sejumlah model smartphone dari Xiaomi, termasuk lini Redmi dan Poco, resmi mengalami kenaikan harga di Indonesia.
Kenaikan ini terpantau di situs resmi Mi.co.id pada pertengahan Januari 2026. Besarnya bervariasi, mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 500.000. Yang menarik, penyesuaian harga tersebut terjadi merata di hampir semua segmen, dari ponsel flagship hingga HP murah yang selama ini dikenal terjangkau.
Harga Naik Tanpa Banyak Disadari
Tidak sedikit konsumen yang baru menyadari kenaikan ini saat kembali mengecek harga. Pasalnya, sebagian besar model Xiaomi yang beredar masih sama seperti tahun lalu, tanpa embel-embel versi baru. Namun, banderol resminya sudah berubah.
Kondisi ini membuat banyak calon pembeli merasa harga HP Xiaomi “diam-diam” naik. Padahal, bagi sebagian orang, selisih Rp 100.000 hingga Rp 300.000 di segmen entry-level bisa sangat menentukan keputusan beli.
Flagship Jadi Penyumbang Kenaikan Terbesar
Kenaikan harga paling besar tercatat pada Xiaomi 15T Series. Xiaomi 15T varian 12 GB RAM dan 256 GB penyimpanan kini dijual dengan harga Rp 7.499.000. Saat pertama kali diluncurkan di Indonesia, harga ponsel ini berada di angka Rp 6.999.000.
Varian Xiaomi 15T 12/512 GB juga mengalami penyesuaian dari Rp 7.499.000 menjadi Rp 7.999.000. Sementara itu, Xiaomi 15T Pro 12/512 GB kini dipasarkan dengan harga Rp 10.499.000, naik Rp 500.000 dari harga peluncuran Rp 9.999.000.
Kenaikan setengah juta rupiah ini menjadi yang tertinggi di antara model Xiaomi lainnya. Meski menyasar kelas atas, lonjakan tersebut tetap cukup mencolok dalam waktu yang relatif singkat.
HP Murah Ikut Naik, Ini yang Paling Terasa
Di luar flagship, dampak paling terasa justru datang dari lini Redmi dan Poco. Selama ini, dua merek tersebut menjadi pilihan utama konsumen yang mencari HP murah dengan spesifikasi memadai.
Redmi 15C varian 6/128 GB kini dibanderol Rp 1.749.000, naik Rp 150.000 dari harga awal Rp 1.599.000. Varian 8/256 GB juga naik menjadi Rp 1.949.000 dari sebelumnya Rp 1.799.000.
Redmi A5 4/128 GB, yang banyak digunakan sebagai ponsel pertama atau HP cadangan, kini dijual Rp 1.399.000. Harga ini naik Rp 200.000 dibandingkan harga peluncurannya di angka Rp 1.199.000.
Di lini Poco, Poco C85 varian 6/128 GB kini dijual Rp 1.649.000, naik Rp 100.000. Varian 8/256 GB juga naik menjadi Rp 1.849.000. Kenaikan paling mencolok di kelas entry-level terjadi pada Poco C71 4/128 GB yang melonjak dari Rp 1.099.000 menjadi Rp 1.399.000.
Dengan harga tersebut, HP Xiaomi di kelas bawah kini semakin mendekati Rp 1,5 juta bahkan Rp 2 juta, sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi.
Penjelasan Resmi dari Xiaomi Indonesia
Country Director Xiaomi Indonesia Wentao Zhao menjelaskan bahwa kenaikan harga ini merupakan hasil dari berbagai faktor, bukan keputusan sepihak tanpa dasar.
Menurut Wentao, harga produk Xiaomi dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar mata uang, ketentuan pajak dan regulasi di masing-masing negara, biaya logistik dan distribusi, serta kondisi operasional di setiap pasar. Xiaomi, kata dia, secara berkala melakukan peninjauan harga agar tetap mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.
Wentao menegaskan bahwa meski terjadi penyesuaian harga, Xiaomi tetap berupaya menjaga keseimbangan antara performa, kualitas, dan keterjangkauan produk. Namun, ia tidak menjelaskan apakah harga yang sudah naik ini akan kembali turun dalam waktu dekat.
Tekanan Global Ikut Menentukan
Kenaikan harga di Indonesia sejalan dengan pernyataan manajemen global Xiaomi sebelumnya. Presiden Xiaomi Lu Weibing telah menyampaikan bahwa 2026 diperkirakan menjadi tahun dengan tekanan biaya yang lebih berat bagi industri smartphone.
Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga chip memori di pasar global. Permintaan komponen ini meningkat tajam karena banyak digunakan untuk server kecerdasan buatan dan pusat data. Kondisi tersebut ikut mendorong naiknya biaya produksi ponsel di berbagai merek.
Apa Artinya bagi Konsumen?
Bagi konsumen awam, situasi ini berarti satu hal. Membeli HP Xiaomi kini perlu pertimbangan lebih matang. Di segmen entry-level, kenaikan Rp 100.000 hingga Rp 300.000 bisa berdampak besar pada anggaran. Sementara di kelas flagship, selisih Rp 500.000 dapat membuat konsumen mempertimbangkan opsi lain.
Jika mengacu pada pola sebelumnya, harga HP Xiaomi biasanya baru turun ketika generasi baru resmi dirilis. Selama belum ada penerus, harga cenderung bertahan di level saat ini.
Dengan kondisi tersebut, calon pembeli disarankan menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan, membandingkan harga lintas merek, serta memantau promo resmi sebelum memutuskan membeli HP baru di awal 2026.
