Awal setelah melahirkan: tubuh lelah, pikiran ikut goyah
Jakarta—Raisa baru-baru ini membuka pengalaman yang tidak banyak orang berani bahas secara terang-terangan soal perjuangan sebagai ibu. Ia mengaku sempat mengalami baby blues setelah melahirkan putrinya.
Raisa menjelaskan bahwa tantangan yang ia rasakan berawal dari sisi fisik. Ia mengaku nyaris tidak pernah bisa tidur nyenyak karena harus merawat dan tetap hadir untuk kebutuhan putri pertamanya, Zalina Raine Wyllie.
Di saat yang sama, kelelahan itu membuat kondisi psikologisnya ikut tidak stabil. Raisa merasa seperti kehilangan pegangan, seperti ada bagian dari dirinya yang “hilang”—bagian yang dulu ia kenal sebagai identitas pribadi sebelum menyandang status sebagai ibu.
Ia bahkan menyebut momen tertentu terasa membingungkan, semacam refleksi yang muncul tanpa diundang, “eh gue tuh siapa sih?” kata Raisa menggambarkan rasa krisis identitas yang ia alami saat masa-masa sulit.
Tidak tidur yang penuh membuat Raisa bertanya-tanya tentang dirinya
Dalam ceritanya, Raisa menuturkan bahwa ia berkali-kali merasa tubuhnya seperti tidak punya kesempatan untuk pulih. Ia menekankan bahwa secara fisik memang berat: tidak ada pola tidur yang benar-benar utuh, karena kebutuhan bayi datang terus.
Dari situ, ia mulai merasakan lelah yang menumpuk sampai menjadi semacam “batas” dalam kepala. Raisa menggambarkan perasaan yang terasa campur aduk: capek sekali, tapi juga bingung harus mengadu ke siapa, dan yang paling membuatnya kaget adalah pikiran yang tiba-tiba datang dengan cara yang ekstrem.
Ia mengaku, pada fase itu dirinya tidak selalu mampu mengontrol apa yang muncul di kepala. Bukan karena ia ingin melukai diri, melainkan karena tubuh yang terlalu lelah sering membuat pikiran seperti “mencari jalan keluar” yang paling cepat menurut logika yang tidak sehat.
Raisa juga menyampaikan bahwa di tengah kondisi tersebut, ia seperti sedang mengulang hari yang sama tanpa benar-benar sempat kembali ke dirinya sendiri. Ia rindu pada versi dirinya yang dulu, versi yang bisa berpikir lebih jernih.
Saat lewat tangga, pikiran ekstrem muncul begitu saja
Yang paling mengejutkan dari cerita Raisa adalah ketika ia mengungkap ada momen ia sempat mengalami pikiran ekstrem yang muncul saat berada di dekat tangga rumahnya.
Raisa menceritakan bahwa ketika setiap kali melintas tangga, pikirannya sempat melontarkan ide yang tidak ia inginkan—seolah tubuhnya sedang “ingin selesai” agar ada jeda. Ia mengungkapkan, saat lewat tangga ia sempat berpikir, “aduh kayak jatuh tuh enak banget ya…”
Raisa menuturkan bahwa pikiran itu muncul spontan karena saat itu ia merasa sangat penat, dan rasa lelahnya begitu dominan sampai seolah-olah ia membayangkan tindakan itu akan memberi kenyamanan.
Namun, penting dicatat, Raisa menceritakan itu sebagai gambaran kondisi baby blues: pikiran yang tidak sehat muncul saat mental sedang jatuh, bukan sebagai keinginan nyata untuk mencelakai diri.
Ia lalu menjelaskan maksud di balik pikiran ekstrem itu—sebagai cara untuk mendapatkan kesempatan istirahat. Ia seperti membayangkan, jika ia terjatuh, ia bisa “masuk” rumah sakit dan akhirnya bisa tidur dengan tenang tanpa terus memikirkan tugas ibu.
“Kayak jatuh, tapi yang gue masuk rumah sakit”—cerita tentang keinginan istirahat total
Raisa mengungkapkan bahwa ia pada momen itu tidak membayangkan akhir yang fatal. Ia menggambarkan pikirannya lebih ke kebutuhan istirahat: agar bisa benar-benar rehat, karena selama ini ia tidak pernah mendapat waktu istirahat total.
Ia mengatakan bahwa ia seperti mengidamkan satu hal sederhana tapi sulit didapat: waktu untuk memejamkan mata tanpa terus memikirkan pekerjaan sebagai ibu, tanpa gangguan, dan tanpa harus terbangun tiap kali bayi membutuhkan.
“Aduh gue pengen masuk rumah sakit supaya gue bisa tidur, bisa istirahat,” begitu Raisa menggambarkan alasannya saat ia jujur pada diri sendiri tentang betapa lelahnya masa itu.
Cerita ini terdengar ekstrem, tetapi Raisa menegaskan bahwa itu adalah refleksi dari kondisi psikologis yang sedang tidak baik, bukan cara berpikir yang benar.
Dari cara Raisa menyampaikan, terlihat bahwa ia kini menatap masa itu dengan pemahaman yang berbeda: ia paham bahwa baby blues yang ia alami membuat pikiran-pikiran tidak sehat datang lebih mudah, terutama ketika tubuh sudah di ujung tenaga.
Bangkit lagi karena ada sistem pendukung: keluarga dan sahabat
Raisa mengatakan ia tidak dibiarkan sendirian. Ia berhasil melewati fase berat tersebut berkat dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat.
Ia menyebut dukungan menjadi penopang yang sangat penting saat mental sedang rapuh. Dalam kondisi seperti itu, kadang bukan solusi besar yang dibutuhkan, melainkan kehadiran orang yang mau membantu dan mendengarkan tanpa menghakimi.
Dari penuturannya, dukungan itu membuat Raisa pelan-pelan kembali melihat bahwa kondisi tidak akan terus seperti itu. Ia mulai belajar menata ulang ritme, membagi peran, dan memberi ruang agar dirinya bisa bernapas.
Raisa juga menyampaikan bahwa ia akhirnya sadar jika kondisi baby blues tidak boleh dibiarkan begitu saja sampai semakin berat.
Membicarakan baby blues dianggap perlu, supaya tidak semua orang merasa sendirian
Dalam ceritanya, Raisa memberi kesan bahwa pengalaman ini ingin ia jadikan pelajaran, terutama untuk ibu-ibu lain yang mungkin mengalami hal serupa tapi tidak tahu harus menyebutnya dengan apa.
Ia merasa banyak orang mungkin mengira bahwa baby blues itu sekadar sedih biasa, padahal bisa datang dengan bentuk lain: pikiran tidak sehat, rasa kehilangan identitas, dan rasa lelah yang terasa tak ada habisnya.
Raisa menekankan, ketika mental sedang drop, tubuh pun akan terasa makin berat. Jadi, masalahnya bukan hanya soal tidur, tapi juga soal keseimbangan psikologis.
Dengan berani menceritakan bagian yang paling berat, Raisa seperti membuka ruang diskusi bahwa baby blues memang bisa dialami—dan ada cara untuk bertahan.
Dari “ingin hilang” ke “berusaha pulih”: prosesnya tidak instan
Raisa juga memberi gambaran bahwa pulih dari kondisi seperti baby blues tidak terjadi dalam semalam. Ia harus melewati hari demi hari, menata ulang cara berpikir, dan perlahan keluar dari tekanan yang sebelumnya terasa menekan.
Ia menceritakan bahwa dirinya sempat berada dalam titik yang membuat ia merasa tidak kuat, lalu kemudian menemukan cara untuk bangkit lagi.
Kisah Raisa tidak terdengar seperti dongeng bahagia, melainkan seperti catatan perjuangan yang realistis: ada jatuh, ada rasa panik, lalu ada proses kembali berdiri.
Bagi Raisa, titik baliknya adalah ketika ia menyadari bahwa ia butuh bantuan dan tidak boleh membiarkan pikiran negatif memimpin terlalu lama.
Penutup: baby blues bisa terjadi, dan dukungan itu penting
Pada akhirnya, Raisa membuka pengakuan bahwa ia sempat mengalami baby blues setelah melahirkan. Ia mengaitkan kondisi itu dengan kelelahan fisik yang tidak pernah tidur penuh, sampai muncul krisis identitas dan pikiran ekstrem—bahkan sempat terlintas keinginan “jatuh” agar bisa mendapatkan waktu istirahat di rumah sakit.
Beruntung, Raisa bisa bangkit dari kondisi sulit tersebut karena dukungan keluarga dan sahabat yang menjadi tempat bersandar.
Cerita Raisa bisa menjadi pengingat bahwa tidak semua ibu akan kuat sendirian, dan ketika mental terasa goyah, bantuan itu bukan tanda lemah—melainkan bagian dari jalan pulih.



















