Awalnya dianggap demam biasa, lalu diperiksa ulang sampai ketemu diagnosis
Jakarta—Jessica Iskandar membagikan pengalaman yang sempat bikin ia khawatir. Ia mengaku mengalami demam tinggi sampai mencapai 39,3 derajat Celsius yang datang berhari-hari dan kondisinya naik-turun. Pada awalnya, Jessica mengira itu sekadar demam biasa yang akan mereda setelah obat, istirahat, dan makan yang cukup.
Namun, menurut Jessica, setelah menjalani pemeriksaan darah pertama, kondisinya tak juga membaik. Ia tetap merasakan demam yang terus muncul dan membuat tubuhnya melemah. Dalam situasi seperti itu, Jessica mengatakan ia akhirnya menjalani pemeriksaan lanjutan ke rumah sakit untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Baru pada pemeriksaan kedua, dokter menjelaskan diagnosis yang lebih jelas. Dari penjelasan tersebut, Jessica menyebut dirinya mengalami gejala Hepatitis A—dan bukan sekadar demam yang sifatnya biasa. Ia menceritakan momen ketika dokter menyimpulkan kondisi tersebut, yang membuatnya seperti “baru benar-benar paham” kenapa tubuhnya terasa berat dan tidak berfungsi normal seperti biasanya.
“Awalnya kan kukira demam biasa. Tapi setelah cek lagi baru disimpulkan gejala Hepatitis A,” tuturnya saat ditemui beberapa waktu setelah menjalani perawatan.
Gejalanya terasa berat: lemas, demam naik turun, dan badan meriang
Jessica menggambarkan bahwa kondisi yang ia alami tergolong cukup berat. Ia merasakan tubuh sangat lemas, seperti tenaga habis, sementara demamnya tidak kunjung stabil. Ia juga sempat menggigil secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, yang kemudian membuatnya merasa semakin tidak nyaman.
Selain demam dan lemas, Jessica menyebut badannya meriang. Ia mengaku merasa “dibawa pergi” oleh kondisi fisiknya sendiri—sehingga meski ia sudah minum obat, tubuhnya tetap terasa tidak enak dan demamnya justru kembali lagi.
Dari ceritanya, ia juga merasakan proses pemulihan yang tidak instan. Ia harus menerima bahwa sakitnya bukan yang bisa diselesaikan hanya dengan obat harian, tetapi perlu waktu pemulihan dan penjagaan kondisi.
Ia juga menuturkan bahwa demamnya naik turun sepanjang beberapa hari, sampai akhirnya dokter mengarahkan ia untuk benar-benar fokus pada pemulihan tubuh.
Dokter tidak berikan obat khusus, justru menyuruh istirahat total
Dalam penjelasan Jessica, tim dokter tidak memberikan obat spesifik untuk menangani Hepatitis A. Yang ditekankan adalah istirahat total agar tubuhnya bisa pulih. Menurutnya, dokter membiarkan tubuh bekerja memulihkan diri sambil memantau kondisi secara berkala.
Bagi seseorang yang biasanya aktif dan tetap mengurus banyak hal, keputusan untuk istirahat total ini tentu bukan hal yang mudah. Jessica menjelaskan bahwa ia sempat merasakan tubuhnya drop, sehingga mau tidak mau ia harus mengatur ulang aktivitas dan fokus pada pemulihan.
Ia juga menyebut bahwa selama ini tubuhnya punya tantangan sendiri karena rutinitas yang padat, terutama dalam masa menyusui. Ia menilai kondisi fisik yang kelelahan membuat tubuh lebih sulit untuk melawan gangguan kesehatan.
Dari situ, ia lalu memperhatikan kembali cara menjaga tubuh, termasuk kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebelumnya mungkin dianggap sepele.
Dugaan penyebab: makanan kurang bersih dan kondisi fisik yang tidak cukup pulih
Jessica menduga sakitnya berkaitan dengan kebersihan makanan yang ia konsumsi. Ia merasa sempat “kecolongan” karena kurang waspada terhadap kondisi higienitas makanan, terutama saat makan di luar rumah. Menurutnya, makanan yang tidak terjaga kebersihannya bisa jadi pemicu masuknya masalah kesehatan.
Selain faktor makanan, Jessica juga menekankan bahwa kondisi fisiknya saat itu sedang lemah. Ia mengaku kurang istirahat karena harus menjalankan peran sebagai ibu yang menyusui. Ia menyebut bahwa dalam 16 bulan terakhir, tidurnya tidak pernah benar-benar penuh karena harus bangun, menyiapkan ASI, dan mengikuti kebutuhan anak.
Jadi, walaupun ia merasa sudah berusaha menjalani hari seperti biasa, tubuhnya tetap berada dalam fase yang tidak sepenuhnya fit. Jessica menilai kombinasi antara daya tahan yang menurun dan kemungkinan paparan dari makanan yang kurang bersih membuat ia akhirnya mengalami gejala tersebut.
Cerita Jessica ini terasa seperti pengingat bahwa tubuh bisa “kasar” menolak hal-hal yang seharusnya tidak jadi masalah kalau kondisi prima.
Setelah sembuh, Jessica makin ketat soal higienitas di dapur
Setelah mengalami ini, Jessica mengatakan ia jadi lebih tegas dalam soal kebersihan makanan di rumah. Ia ingin memastikan bahwa proses menyiapkan makanan sampai minuman benar-benar bersih dan aman untuk dikonsumsi keluarga.
Dalam praktiknya, ia menerapkan aturan ketat untuk orang yang membantu menyiapkan makanan, memotong buah, maupun membuat jus. Jessica menekankan bahwa setiap orang yang menyiapkan makanan harus cuci tangan terlebih dulu, atau menggunakan sarung tangan plastik agar kontak langsung dengan makanan bisa diminimalkan.
Baginya, ini bukan cuma soal “sekadar bersih terlihat”, tetapi kebersihan yang benar-benar dilakukan secara konsisten. Ia menilai, kebiasaan kecil semacam ini bisa jadi perbedaan besar ketika bicara soal risiko kesehatan.
Ia juga mengingat bahwa sebelumnya ia mungkin tidak terlalu detail dalam mengawasi hal-hal yang sesungguhnya penting. Kini, ia menyusun ulang standar kebiasaan rumah.
Perubahan yang ia lakukan bukan ribet, tapi membuatnya merasa lebih aman
Jessica menjelaskan bahwa aturan kebersihan ini bukan untuk membuat suasana rumah jadi kaku atau menambah beban. Ia memosisikan itu sebagai standar dasar agar keluarga tidak mudah “kebobolan” masalah kesehatan karena hal yang seharusnya bisa dicegah.
Ia juga menunjukkan bahwa yang paling penting bukan hanya dirinya yang hati-hati, tetapi semua orang yang terlibat dalam menyiapkan makanan. Menurut Jessica, jika hanya satu orang yang disiplin, sementara yang lain menjalankan kebiasaan berbeda, tujuan akhirnya bisa tidak tercapai.
Ia memilih pendekatan yang bisa dijalankan setiap hari: cuci tangan atau sarung tangan plastik, terutama saat melakukan aktivitas yang berhubungan langsung dengan makanan dan minuman.
Dengan penerapan itu, ia berharap keluarga tetap bisa menikmati makanan tanpa rasa was-was.
Percakapan tentang kesehatan keluarga jadi makin sering di rumahnya
Dari cara Jessica bercerita, terlihat bahwa pengalaman sakit ini mengubah cara pandangnya dalam menjalankan keseharian. Ia menyebut sekarang ia lebih sering membahas dan mengingatkan kebersihan dengan lebih tegas, bukan sekadar mengingatkan sekali lalu selesai.
Ia juga merasakan bahwa orang-orang kadang tidak menyadari risiko dari hal kecil—misalnya tangan yang tidak bersih saat memegang buah atau proses menyiapkan jus. Namun, ketika sudah merasakan dampaknya sendiri, ia jadi paham bahwa “sepele” bisa berdampak serius.
Ia menempatkan ini sebagai bentuk pembelajaran pribadi yang ingin ia bagikan agar orang lain lebih waspada.
Bukan berarti setiap orang harus panik, tetapi perlu standar yang benar.
Pesan utamanya: jaga kebersihan makanan agar tidak mudah kena masalah
Pada akhirnya, Jessica menekankan pelajaran yang ia ambil dari sakitnya: kebersihan makanan itu penting. Ia juga menambahkan bahwa kondisi fisik yang kelelahan bisa membuat tubuh lebih rentan, sehingga menjaga pola hidup dan istirahat secukupnya juga perlu jadi perhatian.
Ia menceritakan ini dengan nada reflektif—seakan ingin memastikan bahwa kejadian yang ia alami tidak sia-sia.
Ia juga tampak ingin mendorong orang untuk lebih memperhatikan makanan, terutama saat makan di luar atau saat makanan dipersiapkan oleh orang lain.
Dengan standar higienitas yang tepat, ia berharap risiko seperti Hepatitis A bisa dicegah lebih awal.
Penutup: sakit yang berat jadi alasan untuk memperketat kebiasaan harian
Jessica Iskandar membagikan pengalamannya saat mengalami demam tinggi dan akhirnya terdiagnosis gejala Hepatitis A setelah pemeriksaan ulang. Ia merasakan lemas, demam naik turun, meriang, serta menggigil tanpa sebab yang jelas.
Menurutnya, penyebab yang ia duga berkaitan dengan makanan yang kurang bersih, serta kondisi fisik yang sedang lemah karena kurang tidur dalam masa menyusui. Setelah itu, ia memperketat standar kebersihan di rumah—mulai dari aturan cuci tangan atau memakai sarung tangan plastik saat menyiapkan makanan dan minuman.
Cerita Jessica ini bisa menjadi pengingat bahwa kesehatan kadang datang dari hal yang sangat dekat dengan keseharian, bukan dari hal-hal besar saja.



















