Sarwendah merespons keberatan Ruben secara tertulis
Sarwendah Tan memberikan klarifikasi terkait konflik dengan Ruben Onsu. Kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu, menjelaskan sejumlah poin yang dianggap menjadi keberatan dari pihak Ruben.
Dalam klarifikasi itu, Chris menegaskan bahwa pihak Sarwendah ingin meluruskan isu yang terlanjur menyebar. Ia juga menyatakan bahwa beberapa kabar tidak sesuai fakta, baik dari sisi kronologi maupun angka yang beredar.
Klarifikasi ini menjadi upaya untuk menjaga agar publik tidak terus mencerna informasi setengah-setengah. Bagian ini penting karena konflik publik figur sering memicu reaksi emosional warganet.
Tuduhan mempersulit bertemu anak ditolak
Poin yang pertama dibahas adalah tuduhan mempersulit pertemuan anak. Chris membantah keras dengan menyatakan bahwa Ruben tidak pernah mengajukan permintaan pertemuan yang ditolak.
Chris mengungkap bahwa komunikasi terakhir Ruben soal anak terjadi pada akhir tahun 2025. Setelah itu, Ruben disebut nyaris tak pernah menghubungi Sarwendah untuk menyusun pertemuan.
Sementara komunikasi terakhir Ruben dengan kedua putrinya terjadi pada April 2026. Dari sinilah pihak Sarwendah menyimpulkan bahwa tuduhan mempersulit tidak tepat.
“Faktanya tidak ada permintaan pertemuan yang ditolak,” kata Chris. Intinya, pihak Sarwendah ingin publik memeriksa apakah klaim itu masuk akal.
Isu eksploitasi anak saat live dibantah
Chris juga merespons tuduhan bahwa Sarwendah mengeksploitasi anak dengan membiarkan Thalia dan Thania tampil saat live bersama Giorgio Antonio.
Chris menyebut bahwa kehadiran anak-anak bukan bagian dari strategi konten. Ia menolak framing bahwa anak dijadikan senjata untuk menaikkan rating atau popularitas.
“Jangan dipelintir seakan-akan anak itu dijadikan senjata untuk menaikkan rating. Tidak!” tegas Chris.
Menurut Chris, anak-anak hadir karena mereka memang ada di rumah, bukan untuk tujuan komersial. Sarwendah dianggap menghormati posisi anak sebagai anak, bukan sebagai alat.
Chris juga menambahkan bahwa tidak ada pihak yang bisa “melarang” anak berada di rumah itu, karena anak-anak punya perannya sendiri di kehidupan keluarga.
Rumor kerugian Rp20 miliar disebut tidak akurat
Pada poin selanjutnya, Chris membantah rumor Sarwendah mengalami kerugian hingga Rp20 miliar akibat vakum berjualan online. Rumor ini dikaitkan dengan respons negatif warganet terhadap video permintaan maaf yang sempat beredar.
Chris menyatakan bahwa angka Rp20 miliar adalah hoaks. Menurutnya, memang ada potensi kerugian karena tidak berjualan setiap hari seperti biasanya.
Namun, pihak Sarwendah menegaskan tidak sebesar yang diberitakan. Chris menjelaskan dengan bahasa sederhana agar publik memahami: jeda jualan bisa mengurangi pemasukan, tapi tidak otomatis berarti angka fantastis.
“Biasanya jualan setiap hari, sekarang tidak. Tapi sekalipun ada kerugian, klien kami menegaskan tidak sebesar yang diberitakan,” ucap Chris.
Dengan bantahan ini, pihak Sarwendah ingin membatasi rumor yang terlalu ekstrem.
Klarifikasi sebagai bentuk merapikan persepsi publik
Dari penjelasan yang diberikan, terlihat bahwa masalah utama bukan hanya konflik internal, tetapi juga cara publik memaknai kejadian. Banyak orang cenderung membaca dari sudut pandang paling dramatis.
Padahal, konflik keluarga tidak selalu punya cerita yang lurus. Ada bagian-bagian yang butuh kronologi dan verifikasi. Chris mencoba mengisi bagian yang kosong itu dengan detail komunikasi dan penilaian angka rumor.
Selain itu, bantahan tentang anak juga bertujuan menghindari kesalahpahaman bahwa anak selalu “dimanfaatkan” hanya karena tampil di kamera.
Penutup: inti klarifikasi adalah fakta, bukan asumsi
Pada akhirnya, klarifikasi Sarwendah melalui kuasa hukumnya menitikberatkan pada tiga bantahan besar. Tidak ada permintaan pertemuan anak yang ditolak, anak tidak dieksploitasi untuk rating, dan kerugian Rp20 miliar disebut hoaks.
Lewat penegasan ini, pihak Sarwendah berharap publik berhenti menyimpulkan tanpa data.



















