Belakangan ini media sosial dipenuhi konten tentang ubi cream cheese. Mulai dari video antrean panjang di supermarket, ulasan food vlogger, hingga konten mukbang yang memperlihatkan lapisan cream cheese tebal di atas ubi kukus berwarna cerah.
Dessert ini mendadak menjadi salah satu camilan paling dicari. Banyak orang penasaran dengan perpaduan rasa manis alami ubi dan sensasi gurih creamy yang disebut bikin nagih.
Di tengah tren tersebut, muncul anggapan bahwa ubi cream cheese lebih sehat dibanding dessert lain. Tidak sedikit yang menganggap camilan ini aman untuk diet karena menggunakan ubi sebagai bahan utama.
Padahal, dokter gizi mengingatkan bahwa makanan viral tetap perlu dilihat secara utuh, bukan hanya dari bahan dasarnya saja.
Secara alami, ubi memang termasuk bahan makanan yang memiliki kandungan gizi baik. Ubi kaya akan serat dan termasuk karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat oleh tubuh.
Karena proses penyerapannya lebih lambat, ubi dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama dibanding makanan dengan karbohidrat sederhana. Itulah sebabnya ubi sering dijadikan alternatif pengganti nasi dalam pola makan sehat.
Namun manfaat tersebut bisa berubah ketika ubi diolah menjadi dessert modern dengan berbagai topping tambahan.
Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK menjelaskan bahwa banyak orang terkecoh dengan label “lebih sehat” hanya karena bahan utamanya adalah ubi.
Menurutnya, tambahan cream cheese, susu kental manis, butter, dan gula tambahan bisa membuat kandungan lemak serta kalorinya meningkat cukup tinggi.
“Karena bahan utamanya ubi, jadi seakan-akan ini dessert sehat,” jelasnya.
Padahal dalam praktiknya, topping yang digunakan justru menjadi sumber kalori terbesar dalam satu porsi.
Fenomena makanan viral saat ini memang sering mengutamakan tampilan visual. Semakin tebal lapisan cream cheese dan saus manis yang digunakan, semakin menarik tampilannya di media sosial.
Akibatnya, banyak produk ubi cream cheese dijual dengan topping melimpah demi menarik perhatian pembeli.
Padahal tanpa disadari, kandungan lemak jenuh dan gula dalam dessert tersebut ikut meningkat tajam.
Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK mengatakan ubi sebenarnya tetap bisa menjadi pilihan camilan yang lebih baik jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.
Menurutnya, porsi ubi yang aman untuk satu kali makan berada di kisaran 100 hingga 150 gram. Jumlah tersebut setara dengan satu porsi karbohidrat pengganti nasi.
Artinya, ubi cream cheese tidak bisa dianggap sekadar snack ringan yang bebas dimakan berkali-kali dalam sehari.
“Porsi wajar sih sebenarnya ubi ini pengganti nasi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan cream cheese perlu dibatasi karena kandungan lemak jenuhnya cukup tinggi. Dalam satu porsi, penggunaan sekitar 20 hingga 30 gram cream cheese masih dianggap dalam batas aman.
Masalahnya, tren dessert kekinian sering kali membuat topping menjadi bagian paling dominan dibanding bahan utamanya.
Tidak hanya cream cheese, tambahan susu kental manis dan butter juga berpotensi meningkatkan total gula dan kalori dalam satu porsi. Inilah yang membuat banyak orang tidak sadar bahwa dessert yang terlihat “lebih sehat” tetap bisa menjadi sumber kalori berlebih.
Menurut dokter, pola pikir seperti ini cukup sering terjadi dalam tren makanan modern. Banyak orang merasa aman mengonsumsi lebih banyak hanya karena makanan tersebut berbahan dasar alami atau real food.
Padahal tubuh tetap menghitung jumlah gula, lemak, dan kalori yang masuk tanpa melihat apakah makanan itu sedang viral atau tidak.
Selain itu, dokter juga mengingatkan bahwa beberapa kelompok perlu lebih berhati-hati saat mengonsumsi ubi cream cheese.
Pengidap diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit jantung termasuk yang disarankan membatasi konsumsi dessert ini, terutama pada bagian topping cream cheese dan tambahan gula.
Pada penderita diabetes misalnya, susu kental manis dan gula tambahan dapat memicu kenaikan gula darah lebih cepat. Sementara kandungan lemak jenuh dari cream cheese bisa menjadi perhatian bagi penderita penyakit jantung dan hipertensi.
Karena itu, dokter menyarankan ubi cream cheese tidak dikonsumsi terlalu sering. Dessert ini masih boleh dinikmati sesekali, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali, selama porsinya tetap dijaga.
Bagi masyarakat yang sedang diet tetapi tetap ingin mencoba tren ini, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Memilih ukuran porsi kecil dan mengurangi topping tambahan menjadi cara paling aman untuk menekan jumlah kalori.
Menghindari saus manis berlebihan juga dapat membantu menjaga asupan gula tetap terkontrol. Selain itu, konsumsi dessert tetap perlu diimbangi dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang cukup.
Tren makanan viral memang selalu menarik perhatian, terutama ketika disebut lebih sehat dibanding makanan lain. Namun dokter mengingatkan bahwa makanan sehat tidak hanya ditentukan oleh bahan utamanya, tetapi juga cara pengolahan, tambahan topping, serta frekuensi konsumsi.
Ubi memang memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Tetapi ketika dipadukan dengan cream cheese tebal, susu manis, dan butter berlebihan, camilan ini tetap perlu dinikmati secara bijak agar tidak berubah menjadi sumber kalori tersembunyi yang mengganggu pola makan sehat.



















