Pengajuan gugatan telah didaftarkan di Pengadilan Agama Jakarta Selatan
Clara Shinta memastikan kabar yang beredar belakangan ini. Selebgram tersebut mengonfirmasi bahwa dirinya telah resmi melayangkan gugatan cerai kepada suaminya, Muhammad Alexander Assad, ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Konfirmasi itu disampaikan Clara saat jumpa pers bersama kuasa hukumnya, Sunan Kalijaga, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Selasa (14/4/2026).
Dalam pernyataannya, Clara menekankan bahwa langkah yang diambilnya bukan keputusan impulsif. Ia mengaitkan gugatan cerai ini dengan situasi rumah tangga yang tengah diterpa isu perselingkuhan. Meski begitu, Clara tidak langsung membuka banyak detail dalam sesi jumpa pers tersebut. Ia lebih memilih menyampaikan bahwa proses hukum kini sudah berjalan dan tinggal mengikuti tahapan persidangan.
Clara juga meminta dukungan doa dari publik. Menurutnya, meski ia sudah “mantap untuk berpisah”, menjalani proses perceraian tetap terasa tidak mudah secara emosional. Di momen yang sama, ia tampak menahan tangis ketika menyampaikan bahwa perpisahan adalah bagian paling berat yang harus dihadapinya.
“Kuatkan aku,” seperti nada permohonannya kepada orang-orang yang mendengar langsung penjelasan saat jumpa pers. Clara berulang kali menyebut bahwa ia masih mencintai suaminya, tetapi ia merasa kondisi yang terjadi membuatnya harus mengambil langkah yang ia anggap tepat.
Klarifikasi suasana batin: ingin berpisah, tapi terasa berat
Dalam jumpa pers itu, Clara mengungkap perasaan yang selama ini ia pendam. Ia menyatakan bahwa dirinya selama ini “terseok-seok”, seolah tidak mudah untuk benar-benar sampai pada titik keputusan. Namun, ia mengaku tetap berusaha mempersiapkan diri menghadapi proses yang akan datang.
Clara mengaku sempat merasa tidak sanggup membayangkan kehidupan tanpa Alexander. Ia mengatakan, saat membayangkan harus berpisah, ia merasa seperti tidak bisa menjalani keadaan tersebut. Pernyataan itu muncul ketika Clara menjelaskan bahwa ia bukan mengambil keputusan karena ingin menjauh begitu saja, melainkan karena ia merasa kondisi rumah tangganya sudah sampai pada batas yang sulit ia pertahankan.
Meski menangis, Clara tetap menyampaikan sikapnya dengan bahasa yang terukur. Ia tidak menuduh secara liar, tetapi menegaskan bahwa ada isu perselingkuhan yang menjadi latar belakang gugatan cerainya. Dengan kata lain, Clara memosisikan dirinya sebagai pihak yang menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan masalah.
Di sini, ia juga meminta agar media menanyakan detail jadwal persidangan langsung ke pihak pengadilan. Clara seolah ingin menjaga agar informasi yang beredar tidak melompat dari tahapan resmi.
Siap menghadapi persidangan dan bersedia bertemu dalam mediasi
Clara menyatakan dirinya siap menghadapi seluruh proses di pengadilan. Ia mengaku siap mengikuti persidangan, termasuk menjalani tahapan mediasi. Menurutnya, mediasi akan dilakukan secara langsung dengan Alexander, sehingga kedua pihak berkesempatan menyampaikan kondisi masing-masing.
Sikap Clara ini menunjukkan bahwa ia tidak menutup pintu komunikasi sepenuhnya. Ia bisa saja sudah menentukan arah keputusan, tetapi ia tetap bersedia hadir sesuai panggilan pengadilan, karena ia menganggap mediasi adalah prosedur yang harus dijalani.
Clara juga menyampaikan bahwa ia tidak menolak pertemuan langsung. Bahkan, ia mengatakan siap bertemu Alexander jika memang proses mediasi mengharuskan pertemuan tersebut. Ini memberi kesan bahwa Clara ingin semuanya berjalan tertib, sesuai aturan, dan tidak mengorbankan proses hukum demi emosi semata.
Dalam sesi tersebut, kuasa hukumnya juga terlihat mendampingi Clara, sehingga penjelasan yang disampaikan terkesan lebih matang. Clara pun menegaskan bahwa ia akan mengikuti arahan terkait tahapan perkara.
Belum menyebut jadwal sidang perdana, fokus pada proses resmi
Walau sudah menyampaikan bahwa gugatan telah didaftarkan ke PA Jaksel, Clara belum menyebutkan kapan sidang perdana akan digelar. Ia memilih untuk tidak mengarang informasi atau menebak jadwal, mengingat jadwal persidangan merupakan kewenangan pengadilan dan dapat berubah.
Clara menyarankan awak media untuk menanyakan langsung ke pihak pengadilan bila ingin mengetahui jadwal sidang. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa detail perkara sebaiknya mengacu pada informasi resmi.
Sikap Clara ini terasa seperti upaya untuk menahan agar publik tidak terjebak pada spekulasi. Pada momen jumpa pers, banyak pertanyaan biasanya mengarah pada kapan proses hukum dimulai secara konkret. Clara tampaknya ingin memastikan bahwa jawaban yang diberikan adalah jawaban yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan begitu, Clara mengalihkan fokus dari jadwal ke kesiapan mentalnya. Ia menyebut bahwa dirinya siap menjalani panggilan sidang, bahkan jika situasi emosionalnya berat.
Isu perselingkuhan menjadi latar, tapi detail akan mengikuti proses
Clara menyebutkan bahwa rumah tangganya diterpa isu dugaan perselingkuhan. Isu ini menjadi pembuka konteks ketika Clara menyampaikan alasan di balik langkah hukumnya. Meski demikian, dalam konten jumpa pers tersebut, Clara tidak memerinci detail kejadian secara panjang lebar.
Pola seperti ini sering terjadi dalam perkara keluarga, terutama ketika pihak penggugat dan pengacara memilih untuk menyampaikan pokok perkara tanpa membanjiri publik dengan kronologi yang belum diuji. Clara tampaknya memilih menjaga proses hukum tetap berjalan sesuai mekanisme.
Ia juga tidak terkesan menyerang secara personal, melainkan menggambarkan kondisi yang membuatnya mengambil langkah cerai. Dengan kalimat-kalimat yang lebih mengarah pada kesiapan menghadapi proses, Clara terlihat berusaha menempatkan dirinya pada posisi “pihak yang menjalani proses”, bukan “pihak yang pamer emosi”.
Di saat yang sama, publik tentu ingin mengetahui lebih banyak. Namun Clara menahan diri, menunggu tahapan persidangan dan mediasi yang kemungkinan menjadi ruang resmi untuk menjelaskan berbagai hal.
Dukungan publik dan doa menjadi bagian yang Clara butuhkan
Salah satu hal yang menonjol dari jumpa pers Clara adalah permohonannya agar publik mendoakan. Ia menyampaikan pesan itu secara langsung, seolah ingin menyampaikan bahwa keputusan cerainya tidak datang dari sikap keras kepala, tapi dari proses yang melelahkan secara emosional.
Ia mengatakan bahwa perpisahan bukan perkara yang mudah. Bahkan, ia menyebut dirinya seperti “ingin mati rasanya” ketika harus membayangkan berpisah dengan suami, karena ia merasa cinta itu masih ada. Namun, ia juga mengaku bahwa ia tetap berusaha mengambil keputusan demi ketertiban hidupnya ke depan.
Permohonan itu membuat suasana jumpa pers menjadi lebih personal. Clara tidak sekadar mengumumkan tindakan hukum, tetapi juga menyampaikan sisi manusiawinya. Ini yang membuat pernyataannya terasa lebih natural dan tidak hanya menjadi teks formal.
Kepada wartawan, Clara tampaknya ingin memastikan bahwa pemberitaan tidak membuat orang salah paham. Ia ingin orang mengerti bahwa ia sedang melewati masa sulit dan butuh dukungan agar bisa menjalani proses ke depan.
Kuasa hukum mendampingi langkah awal gugatan dan akan mengikuti proses perkara
Kuasa hukum Clara, Sunan Kalijaga, hadir mendampingi penyampaian. Kehadiran kuasa hukum ini penting, karena menyangkut langkah hukum yang sudah didaftarkan. Dalam konteks jumpa pers, kuasa hukum biasanya membantu merapikan informasi agar selaras dengan prosedur di pengadilan.
Clara terlihat mengikuti arahan terkait penyampaian yang tidak menyimpang dari prosedur. Misalnya, saat menyangkut jadwal sidang, Clara memilih mengarahkan pada pihak pengadilan. Itu menunjukkan bahwa penyampaian detail perkara sebaiknya menunggu informasi resmi.
Selain itu, pendampingan kuasa hukum juga biasanya menjadi penanda bahwa dokumen gugatan sudah disiapkan. Dengan begitu, Clara dapat fokus pada kesiapan dirinya, sementara aspek teknis perkara ditangani melalui langkah-langkah hukum.
Langkah ini juga menegaskan bahwa Clara tidak menjalankan proses cerai secara “sendirian”. Ia ditemani oleh pihak yang memahami prosedur, sehingga peluang kesalahan administratif dapat diminimalkan.
Mediasi menjadi ruang penting: bertemu langsung tanpa menghilangkan keputusan
Clara menegaskan siap menjalani mediasi langsung. Dalam banyak kasus perceraian, mediasi sering dianggap sebagai ruang untuk melihat apakah kedua pihak masih bisa berdamai atau tidak. Clara, meski menyatakan dirinya mantap untuk berpisah, tetap memberi ruang proses mediasi berjalan.
Sikap itu bisa dipahami sebagai bentuk tanggung jawab atas prosedur. Clara seolah mengatakan: keputusan sudah diambil, tetapi proses hukum akan dijalani sesuai aturan. Mediasi tetap perlu dilakukan sebagai tahapan awal yang sah.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, Clara tampak ingin memastikan bahwa ketika proses berjalan, tidak ada langkah yang dilompati. Ia siap datang saat dipanggil dan bersedia bertemu Alexander dalam rangka mediasi.
Dengan demikian, mediasi bukan sekadar formalitas. Bagi Clara, mediasi bisa menjadi tempat komunikasi yang terakhir sebelum perkara masuk tahap berikutnya. Ia juga ingin memastikan bahwa semuanya dilakukan dengan tertib dan tidak mengorbankan proses.
Cerita rumah tangga memasuki bab baru, Clara memilih jalur resmi
Di akhir penjelasan, Clara menegaskan bahwa rumah tangganya kini memasuki bab baru. Setelah isu perselingkuhan mencuat dan kondisi rumah tangga terasa tidak bisa dipertahankan, ia memilih jalur hukum yang tersedia.
Ia menyampaikan bahwa gugatan sudah didaftarkan di PA Jaksel, sehingga langkah selanjutnya mengikuti tahapan pengadilan. Clara juga mengajak publik untuk menunggu perkembangan proses secara resmi, bukan menilai dari spekulasi semata.
Dalam konteks kehidupan pribadi, langkah perceraian sering diiringi penilaian publik. Namun Clara berusaha mengarahkan publik untuk memahami bahwa ia sedang menjalani proses, bukan sekadar mencari sensasi.
Dengan kalimat yang terus berulang “mohon doa dan kekuatannya”, Clara menutup dengan pesan yang mengarah pada harapan. Ia ingin bisa melewati masa sulit ini dengan tenang dan menjalani proses ke depan sampai selesai secara hukum.



















