Takdir yang tetap terasa meski kabar duka datang
JAKARTA—Kepergian ibunda Anji Manji, Siti Sundari, meninggalkan duka yang dalam bagi keluarga. Meski demikian, di balik kabar sedih itu, Anji dan keluarga masih memegang satu momen yang terasa “hangat” di hati: ada ikatan spesial antara Anji, ibunda, dan sang cucu.
Fakta unik tersebut justru muncul saat Anji membuka cerita kepada awak media. Ia menyebut bahwa Siti Sundari punya tanggal lahir yang sama dengan dirinya, dan kabar itu semakin lengkap ketika sang cucu juga mengalami hal serupa.
Bagi Anji, kesamaan tanggal lahir ini bukan cuma kejadian biasa. Ia menilai itu seperti tanda keterikatan yang sulit dijelaskan dengan logika sederhana, tetapi terasa nyata dalam rutinitas keluarga.
Anji: “Sad fact,” tapi tetap menyentuh
Anji mengungkapkan bahwa kesamaan tanggal lahir tersebut membuat mereka kerap merayakan ulang tahun bersama. Ia bahkan menegaskan bahwa ini bukan “fun fact” belaka, karena konteksnya kini berhubungan dengan kepergian ibunda.
“Satu hal, bukan fun fact, sad fact bahwa Mama, Anji, dan Saga itu tanggal lahirnya sama. Dan kami setiap tahun selalu merayakan bertiga,” kata Anji Manji kepada awak media belum lama ini.
Kalimat sederhana itu terdengar pelan, tapi justru karena pelannya, kesannya semakin mengena. Bagi Anji, momen merayakan bersama menjadi semacam cara keluarga “menyapa” orang-orang yang paling dicintai, meski harus diingat dalam suasana berbeda.
Wina Natalia menambahkan, kelahiran Saga jadi hadiah terindah
Di kesempatan yang sama, mantan istrinya, Wina Natalia, ikut menuturkan pandangan tentang arti kelahiran Saga Omar Nagata. Menurut Wina, kehadiran sang cucu saat itu terasa seperti hadiah yang sangat istimewa bagi keluarga.
Wina menyebut kelahiran Saga menjadi “hadiah terindah” untuk ibunda Anji dan suami mereka saat itu. Ia juga menyoroti bagaimana momen keluarga ternyata bukan hanya ditandai oleh kesamaan tanggal, tetapi juga oleh kedekatan batin yang terbentuk dari waktu ke waktu.
Cerita ini kemudian membuat kesamaan tanggal lahir terasa semakin bukan sekadar angka kalender. Ada benang merah emosi di dalamnya—kedekatan yang tumbuh, dirawat, dan dikenang.
Sering merayakan bertiga, kini tinggal kenangan
Anji menjelaskan bahwa rutinitas merayakan ulang tahun bersama berjalan setiap tahun. Karena tanggalnya sama, keluarga tidak perlu mencari alasan tambahan untuk berkumpul.
Mereka sudah punya momen tetap: hari itu jadi hari untuk berkumpul, saling bercerita, dan menikmati kebersamaan yang terasa natural, tanpa perlu dibuat-buat. Dari situ, Anji terlihat seperti orang yang benar-benar menghitung perjalanan keluarga lewat hal-hal kecil.
Kini, setelah kabar duka datang, kesamaan itu justru menjadi pengingat paling kuat tentang kedekatan mereka—bahwa hubungan ibu dan anak tidak hanya terasa saat sedang menjalani hari-hari baik, tetapi juga bertahan sampai di masa sulit.
Saga dan ikatan batin yang disebut begitu kuat
Anji juga menegaskan bahwa ikatan batin yang terjalin antara ibunda, dirinya, dan cucu—Saga—terasa sangat kuat. Ia mengaitkannya dengan momen yang sama berulang setiap tahun serta kedekatan emosional yang terbangun sejak Saga hadir.
Bahkan ketika keluarga sedang berduka, ingatan tentang perayaan bertiga seperti masih “mengalir” dalam ingatan Anji. Rasanya, ia sedang mengingat cara ibundanya tersenyum dan menghabiskan hari-hari spesial bersama orang-orang yang dekat.
Dari penuturannya, Saga tidak sekadar menjadi bagian dari keluarga yang hadir, tapi seakan menjadi pengikat yang membuat momen-momen penting keluarga terasa lebih utuh.
Dua kisah berjalan bersamaan: duka dan hangat
Menariknya, cerita Anji tidak berhenti pada kesedihan. Ia mencoba menyampaikan duka, tetapi tetap menyelipkan sisi hangat yang pernah mereka jalani bersama.
Hal itu membuat wawancara terasa lebih manusiawi. Tidak semua keluarga bisa menceritakan kabar duka dengan cara yang tetap memegang kenangan baik, tapi Anji melakukannya dengan cara yang terasa jujur.
Ia seolah ingin menyampaikan bahwa sekalipun sekarang kehilangan, ada jejak kebersamaan yang dulu sudah mereka bangun, dan itu tidak hilang begitu saja.
Wina Natalia: harapan dan rasa syukur tetap ada
Wina Natalia menambahkan bahwa kelahiran Saga pada waktu yang tepat membuat suasana keluarga semakin terasa lengkap. Cerita Wina memperlihatkan bahwa ia memandang Saga bukan hanya sebagai anak, tapi juga sebagai titik yang menambah makna dalam keluarga.
Ia menyebut kelahiran Saga menjadi hadiah terindah. Kalimat itu terasa seperti bentuk rasa syukur yang ia simpan, sekaligus cara ia memberi ruang pada kebahagiaan lama meski kini konteksnya sedih.
Kesamaan tanggal lahir, menurut Wina, menjadi salah satu hal yang membuat rasa syukur itu semakin kuat.
Anji dan keluarga: merawat ingatan lewat detail tanggal
Kalau ditilik lebih dalam, cerita tentang “tanggal lahir yang sama” justru menunjukkan bagaimana keluarga sering merawat ingatan melalui detail sederhana. Kadang, yang paling sulit terlupakan adalah hal-hal yang terasa rutin: hari yang sama, momen yang sama, dan kebiasaan yang sama.
Bagi keluarga Anji, “tanggal” bukan hanya penanda umur, melainkan penanda kebersamaan. Setiap tahun, mereka punya alasan untuk berkumpul dan saling menguatkan.
Kini, setelah ibunda berpulang, tanggal yang sama itu berubah fungsi: menjadi pengingat bahwa perayaan akan terasa berbeda tanpa sosok yang dulu selalu hadir.
Penutup: cinta keluarga yang tak bisa dipadamkan
Anji menutup dengan suasana yang terasa berat, tapi tetap hangat. Ia menceritakan fakta unik itu bukan untuk sensasi, melainkan untuk menandai bahwa hubungan keluarga mereka punya tanda yang sulit disangkal.
Kesamaan tanggal lahir antara Anji, ibunda Siti Sundari, dan cucu Saga membuat kebersamaan mereka terasa punya “kode” khusus yang datang dari takdir.
Dan meski duka menyisakan ruang kosong, kabar yang dibagikan Anji tetap memberi sinyal: cinta keluarga tidak hanya berhenti pada kehadiran, tetapi juga bertahan dalam ingatan dan kebiasaan-kebiasaan yang dulu mereka jalani bersama.



















