Maudy Terlibat Ganda: Akting dan Musik dalam Satu Proyek
Jakarta — Maudy Ayunda kembali menunjukan kapasitasnya sebagai seniman serba bisa dalam proyek film Para Perasuk. Selain berperan sebagai aktris, Maudy dipercaya menyumbangkan dua lagu untuk soundtrack film tersebut: “Aku yang Engkau Cari” dan “Di Tepi Lamunan”. Keterlibatan ganda ini otomatis memberi nuansa berbeda pada proses kreatif yang dijalaninya.
Perpaduan peran di depan kamera dan di belakang studio musik membuat Maudy harus membagi energi dan fokus. Bukan hanya soal menyanyi, tetapi menulis lirik dan menyesuaikan nuansa lagu dengan dunia film ternyata memerlukan kerja detail yang panjang.
Publik penasaran melihat bagaimana Maudy menyeimbangkan tuntutan akting serta tanggung jawab menyajikan lagu yang benar-benar “nyambung” dengan cerita. Dari penuturan Maudy, rupanya prosesnya jauh dari mulus dan banyak memakan waktu.
Proses Menulis: Bukan Sekadar Menyusun Nada
Maudy mengakui bahwa proses pembuatan lagu tidak selalu berjalan lancar. Tantangan utama yang ia hadapi adalah menemukan kata-kata dan lirik yang benar-benar pas. Ada kalanya ia harus menunda, berpikir ulang, dan mengulang tulisan demi mencapai kalimat yang menyentuh dan relevan dengan karakter serta mood film.
Ia menyebut proses kreatif ini sering kali berupa diskusi yang berulang, bolak-balik antara ide awal dan revisi. Maudy menuturkan bahwa ada masukan dari sutradara Wregas yang ikut memengaruhi bentuk akhir lagu, termasuk butir lirik kecil yang akhirnya dipakai karena terasa cocok.
Dalam kasus salah satu lagu, ide frase terakhir yang menyentuh disampaikan oleh Wregas dan langsung diterima Maudy. Momen kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa film dan musik memang harus saling mengisi agar menghasilkan narasi utuh.
Menjaga Batas Nuansa Film: Constraint yang Memaksa Berpikir Kreatif
Selain soal lirik, Maudy menjelaskan tantangan lain adalah menjaga agar lagu tidak keluar dari konteks film. Ia menggunakan kata “constraint” untuk menggambarkan batasan yang harus dipenuhi: lagu boleh eksploratif, tetapi tidak boleh membuat penonton merasa musik itu berasal dari dunia berbeda yang tak relevan dengan cerita.
Menjaga konsistensi dunia film ini menjadi tugas tersendiri. Maudy harus memastikan melodi, aransemen, hingga pilihan kata tetap selaras dengan karakter dan atmosfer yang dibangun sutradara. Sensitivitas terhadap konteks inilah yang membedakan soundtrack film dengan lagu komersial biasa.
Dalam praktiknya, menjaga batasan ini kerap memicu penyesuaian—baik pada melodi maupun lirik—hingga akhirnya tercipta karya yang orisinal tetapi juga “nyambung” secara naratif.
Dari Satu Lagu ke Dua Lagu: Perubahan Mindset yang Menantang
Awalnya, Maudy mengira projet soundtrack hanya akan salah satu lagu. Namun seiring berjalannya proses kreatif, ia justru diminta menggarap dua nomor berbeda. Menurutnya, perubahan ini menuntut penataan ulang mindset karena membuat dua lagu berarti menggali dua sudut emosi film yang berbeda.
Menggarap dua lagu sekaligus memaksa Maudy berpikir lebih luas soal tema, motif musik, dan bagaimana setiap lagu bisa melengkapi penceritaan film. Ia harus memastikan kedua lagu tetap saling berkaitan secara emosional, namun memiliki identitas masing-masing untuk menunjang adegan yang berbeda.
Peralihan mindset dari menggarap satu karya ke dua karya menjadi pengalaman belajar: memperluas cara pandang kreatif, lebih intens berdiskusi dengan tim musik dan sutradara, serta lebih teliti saat merevisi bagian-bagian penting.
Kolaborasi dengan Wregas: Input Sutradara yang Berarti
Dalam proses pembuatan lagu, Maudy banyak berdiskusi dengan sutradara Wregas. Bukannya sekadar menerima arahan, diskusi tersebut bersifat timbal balik—Maudy menyodorkan ide, Wregas memberi masukan, dan terkadang justru muncul gagasan baru dari percakapan itu. Contoh kecilnya adalah frase “dipelukmu” yang awalnya bukan ide Maudy, namun diambil karena terasa kuat.
Kolaborasi seperti ini menegaskan bahwa soundtrack bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari penceritaan film. Kepekaan sutradara terhadap musik dan kepekaan musisi terhadap narasi film harus berjalan beriringan untuk mencapai hasil yang maksimal.
Refleksi Maudy: Menjaga Orisinalitas Tanpa Mengabaikan Cerita
Maudy menekankan bahwa menjaga orisinalitas lagu menjadi prioritas, tetapi orisinalitas itu harus tetap ada dalam bingkai cerita. Ia ingin karya musiknya terasa autentik, bukan sekadar menempel di film. Hal ini menuntut ketelitian dalam memilih kata, melodi, bahkan tata vokal agar pesan lagu tersampaikan dengan jelas.
Ia juga mengakui bahwa proses tersebut membuatnya lebih kritis terhadap karyanya sendiri: apakah lirik sudah mewakili emosi karakter? Apakah melodi mampu mengangkat suasana adegan? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menjadi panduan selama proses pembuatan.
Tantangan Teknis dan Waktu: Mengatur Jadwal antara Akting dan Rekaman
Mengemban dua peran dalam proyek yang sama menuntut manajemen waktu yang ketat. Maudy harus membagi jadwal antara sesi syuting dan waktu untuk menulis serta merekam lagu. Kadang kala revisi lagu menuntutnya kembali ke studio di sela-sela kesibukan di lokasi syuting.
Tekanan waktu semacam ini memaksa Maudy bekerja efisien tanpa mengurangi kualitas hasil. Pengaturan waktu yang baik, dukungan tim produksi, dan fleksibilitas jadwal menjadi kunci agar kedua tugas dapat berjalan berbarengan.
Harapan pada Hasil Akhir: Sinkronisasi Musik dan Visual yang Mengena
Maudy berharap kedua lagu tersebut bisa menjadi jembatan emosi antara penonton dan cerita film. Ia ingin lagu-lagunya membantu memperkuat pengalaman menonton—menjadikan adegan tertentu lebih mengena dan melekat di memori penonton. Bagi Maudy, keberhasilan lagu dilihat saat penonton merasa musik itu memang bagian dari kehidupan karakter di layar.
Ia juga berharap kolaborasi antar-tim di film ini membuka jalan bagi karya-karya yang saling menguatkan, bukan hanya sekadar produksi terpisah yang kebetulan digabung.
Penutup: Proses yang Mengasah dan Menginspirasi
Menggarap dua lagu sekaligus untuk film Para Perasuk menjadi pengalaman yang menantang sekaligus memperkaya bagi Maudy Ayunda. Dari kesulitan mencari lirik yang tepat, menjaga keselarasan nuansa film, hingga mengatur waktu antara syuting dan rekaman—semua menjadi bagian proses kreatif yang mengasah kemampuan.
Bagi penonton dan penggemar, kehadiran Maudy di dua bidang ini tentu menambah daya tarik film. Bukan sekadar karena namanya, melainkan karena dedikasi yang terlihat dalam tiap detil karya yang ia hadirkan.



















