Air minum kini tidak lagi sekadar kebutuhan dasar. Di etalase toko, air hadir dengan berbagai klaim. Ada yang menonjolkan pH 8+, bahkan 9+. Ada yang mengedepankan mineral alami pegunungan. Ada pula yang disebut paling aman karena dimasak sendiri di rumah.
Di tengah banjir informasi itu, muncul satu pertanyaan mendasar. Apakah tubuh benar benar membutuhkan air dengan pH tinggi? Atau selama ini publik hanya sedang mengikuti tren?
pH Air dan Cara Tubuh Mengaturnya
pH adalah ukuran tingkat keasaman atau kebasaan pada skala 0 sampai 14.
pH 7 bersifat netral.
Di bawah 7 asam.
Di atas 7 basa atau alkali.
Standar mutu air minum di Indonesia menetapkan rentang pH aman berada pada 6,5 hingga 8,5. Selama berada dalam batas tersebut, air dinilai layak dari sisi parameter keasaman.
Tubuh manusia sendiri menjaga pH darah pada kisaran sangat sempit, sekitar 7,35 sampai 7,45. Sistem paru paru dan ginjal bekerja tanpa henti menjaga angka ini tetap stabil. Jika pH darah bergeser jauh dari rentang tersebut, itu merupakan kondisi medis serius.
Artinya, pada orang sehat, minum air dengan pH 8 atau 9 tidak serta merta membuat darah menjadi lebih basa. Tubuh memiliki mekanisme pengaturannya sendiri.
Air Mineral Netral: Paling Umum dan Sudah Memadai
Mayoritas air kemasan berada di kisaran netral.
AQUA memiliki pH sekitar 7,2 hingga 7,4 tergantung sumber mata airnya. Kandungan mineral seperti kalsium dan magnesium memberi sedikit karakter rasa.
Sanford dikenal sebagai air yang melalui proses demineralisasi sehingga kadar mineralnya rendah. pH umumnya berada di sekitar angka 7 dan terasa ringan saat diminum.
Bagi individu sehat, air mineral netral sudah cukup untuk menjaga hidrasi harian. Tidak ada kewajiban medis untuk memilih pH lebih tinggi jika tubuh dalam kondisi normal.
Air Alkali: Manfaat Spesifik, Bukan Kebutuhan Umum
Air alkali dengan pH di atas 8 semakin populer dalam beberapa tahun terakhir.
Pristine 8+ mengklaim pH sekitar 8,3 hingga 8,5.
Beberapa penelitian menunjukkan air dengan pH sekitar 8,8 dapat membantu menonaktifkan enzim pepsin yang berkaitan dengan refluks asam lambung. Pada penderita GERD, ini bisa membantu meredakan gejala sementara.
Namun hingga saat ini belum ada bukti ilmiah kuat bahwa konsumsi rutin air alkali memberikan manfaat jangka panjang bagi orang sehat. Klaim bahwa air alkali dapat “menetralkan darah asam” tidak sesuai dengan prinsip fisiologi.
Tubuh memiliki sistem penyangga alami yang menjaga keseimbangan asam basa tanpa bergantung pada jenis air tertentu.
Air Keran yang Direbus: Murah dan Tetap Relevan
Di banyak rumah tangga, air keran yang direbus masih menjadi pilihan utama.
pH air keran bergantung pada sumbernya. Di wilayah perkotaan, umumnya berada pada kisaran 6,5 sampai 7,5. Namun di daerah dengan tanah gambut, air bisa lebih asam, bahkan di bawah pH 6.
Saat air direbus, karbon dioksida terlarut menguap. Proses ini dapat sedikit menaikkan pH, tetapi perubahannya biasanya kecil dan tetap dalam rentang aman.
Perebusan efektif membunuh bakteri dan virus. Namun perebusan tidak menghilangkan logam berat atau kontaminan kimia seperti pestisida. Jika sumber air tercemar secara kimia, memasak saja tidak cukup.
Jika air jernih dan tidak berbau, serta berasal dari sistem distribusi yang baik, perebusan hingga mendidih umumnya cukup untuk konsumsi harian dari sisi mikrobiologi.
Yang Lebih Penting dari Sekadar Angka pH
Perdebatan soal pH sering menutupi fakta bahwa kualitas air ditentukan oleh banyak faktor lain, seperti:
- Kandungan bakteri patogen
- Logam berat
- Proses produksi dan pengemasan
- Kebersihan penyimpanan
Air dengan pH tinggi tetapi terkontaminasi tetap berbahaya. Sebaliknya, air netral yang bersih jauh lebih aman.
Jadi, Air Mana yang Sebenarnya Dibutuhkan Tubuh
Untuk individu sehat, air mineral netral sudah memadai.
Untuk penderita gangguan asam lambung, air alkali dapat menjadi pilihan tambahan saat gejala muncul.
Untuk pengguna air keran, pastikan sumbernya aman dan selalu direbus hingga mendidih.
Memilih air minum sebaiknya didasarkan pada keamanan dan kualitas, bukan sekadar tren angka pH.
Penegasan Akhir
Air minum bukan suplemen ajaib. Tubuh manusia memiliki sistem alami yang menjaga keseimbangan asam basa. Selama air berada dalam rentang pH aman dan bebas kontaminan, fungsi utamanya tetap sama, yaitu menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Sebelum tergoda label pH 9 atau klaim kesehatan besar, pastikan Anda memahami fakta ilmiahnya. Karena dalam urusan air minum, yang paling penting bukan sensasi angka, melainkan keamanan dan kualitasnya.



















