banner 728x250

Selamat Tinggal Doraemon, Ketika Kartun Minggu Pagi Berubah Menjadi Kenangan

Illustrasi Doraemon Pamit dari Station TV Indonesia
banner 120x600
banner 468x60

Ada masa ketika Minggu pagi tidak perlu direncanakan. Bangun lebih awal sudah menjadi kebiasaan, televisi dinyalakan tanpa banyak pilihan, dan satu tayangan selalu dinanti. Sejak awal 2026, kebiasaan itu resmi berhenti. Doraemon tidak lagi hadir di televisi nasional, menutup perjalanan panjang yang telah menemani pemirsa Indonesia selama lebih dari 35 tahun.

Kepergian Doraemon dari layar kaca tidak diumumkan secara besar-besaran. Ia justru terasa seperti senyap. Jadwal tayang yang biasanya rutin menghilang begitu saja. Bagi penonton setia, perubahan ini tidak langsung disadari. Namun ketika Minggu pagi datang tanpa Doraemon, barulah rasa kehilangan itu muncul perlahan.

banner 325x300

Selama puluhan tahun, Doraemon menempati posisi unik dalam kehidupan keluarga Indonesia. Ia bukan hanya kartun anak-anak, tetapi bagian dari ritme rumah tangga. Banyak orang mengingat bagaimana hari libur dimulai dari ruang tamu, dengan televisi menyala lebih lama dari hari biasa. Doraemon menjadi alasan untuk duduk bersama, setidaknya selama beberapa puluh menit.

Sejak dikenal luas di Indonesia pada awal 1990-an, Doraemon melewati berbagai perubahan zaman. Televisi tabung berganti layar datar, siaran analog bergeser ke digital, dan kebiasaan menonton ikut berubah. Namun Doraemon tetap bertahan dengan cerita yang nyaris tak berubah. Nobita yang ceroboh, Doraemon yang sabar, serta konflik kecil yang selalu berujung pelajaran sederhana.

Kesederhanaan itulah yang membuat Doraemon mudah diterima lintas generasi. Ceritanya tidak rumit dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masalah sekolah, rasa malas, keinginan untuk diakui, dan godaan jalan pintas menjadi tema yang terus berulang. Alat-alat ajaib dari masa depan memang menjadi daya tarik utama, tetapi hampir selalu berakhir dengan kekacauan kecil.

Tanpa disadari, Doraemon menyampaikan pesan yang konsisten. Bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan secara instan. Bahwa kemudahan sering kali datang bersama risiko. Dan bahwa usaha tetap menjadi kunci utama. Nilai-nilai ini mungkin terasa sepele saat ditonton di usia anak-anak, tetapi kembali terasa relevan ketika penontonnya dewasa.

Ketika Doraemon tak lagi tayang di televisi nasional, banyak orang baru menyadari bahwa ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Bukan karena ceritanya berubah, tetapi karena ia selalu ada di waktu yang sama, dalam suasana yang sama.

Reaksi Publik: Nostalgia yang Datang Bersamaan

Hilangnya Doraemon dari televisi langsung memicu reaksi luas di media sosial. Sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, berbagai unggahan bermunculan dengan nada yang hampir seragam. Banyak warganet mengungkapkan rasa sedih, terkejut, dan rindu.

Sebagian besar unggahan berisi kenangan masa kecil. Tentang bangun pagi di hari Minggu. Tentang televisi tabung di ruang keluarga. Tentang sarapan sederhana yang dimakan sambil menunggu lagu pembuka Doraemon diputar. Banyak yang menyebut Doraemon sebagai satu-satunya tayangan yang selalu mereka tunggu setiap akhir pekan.

Tidak sedikit pula yang menuliskan bahwa Doraemon menemani mereka dari masa sekolah hingga kini sudah bekerja. Konsistensi tayangnya selama puluhan tahun membuat Doraemon terasa seperti teman lama. Karena itu, berhentinya Doraemon di televisi sering dimaknai sebagai simbol berakhirnya masa kecil.

Beberapa warganet juga menyinggung bahwa Doraemon bukan hanya hiburan, tetapi sumber pelajaran hidup. Bukan soal alat ajaib, melainkan tentang kegagalan, tanggung jawab, dan menerima diri sendiri. Reaksi yang muncul hampir bersamaan ini menunjukkan bahwa Doraemon adalah pengalaman kolektif, bukan sekadar tontonan individu.

Dari Televisi ke Layanan Streaming

Di tengah gelombang nostalgia tersebut, satu hal menjadi jelas. Doraemon sebenarnya belum benar-benar pergi. Serial ini masih tersedia di berbagai layanan streaming dan platform digital. Anak-anak hari ini tetap bisa menontonnya dengan mudah.

Namun, cara menikmatinya telah berubah. Jika dahulu Doraemon ditonton bersama pada jam yang sama, kini ia menjadi tontonan personal. Bisa diputar kapan saja, dihentikan kapan pun, dan ditonton di layar yang berbeda-beda. Kemudahan ini sejalan dengan perubahan gaya hidup, tetapi juga menghilangkan rasa kebersamaan.

Peralihan dari televisi ke layanan streaming mencerminkan perubahan besar dalam budaya menonton. Televisi tidak lagi menjadi pusat hiburan keluarga. Ponsel dan tablet mengambil alih peran tersebut. Praktis dan fleksibel, tetapi lebih individual.

Bagi generasi lama, kehilangan Doraemon di televisi bukan soal akses. Mereka masih bisa menontonnya. Namun yang hilang adalah suasana. Rasa menunggu Minggu pagi. Rasa berbagi cerita dengan teman tentang episode yang sama. Rasa bahwa semua orang sedang menonton hal yang serupa.

Kenangan yang Tetap Tinggal

Berakhirnya tayangan Doraemon di televisi nasional menutup satu bab panjang dalam sejarah hiburan Indonesia. Namun kenangan yang ditinggalkannya tidak ikut berhenti. Doraemon tetap hidup dalam komik yang masih dibaca ulang, dalam lagu pembuka yang langsung dikenali, dan dalam cerita masa kecil yang terus dikenang.

Minggu pagi mungkin tak lagi sama. Namun bagi jutaan orang Indonesia, Doraemon akan selalu menjadi simbol masa kecil yang hangat dan sederhana. Sebuah kenangan yang kini berpindah layar, tetapi tidak pernah benar-benar pergi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

gacorway
GACORWAY
gacorway
SITUS SLOT
SITUS SLOT GACORWAY
SITUS GACOR
MPO500 Daftar
gacorway
MPO500
royalmpo Royalmpohttps://avantguard.co.id/idn/about/ Royalmpo royalmpo royalmpo royalmpo royalmpo https://malangtoday.id/ https://guyonanbola.com/ renunganhariankatolik.web.id SLOT DANA MPO SLOT mpo slot royalmpo royalmpo royalmpo royalmpo royalmpo royalmpo mpo slot jkt88 gacor4d https://holodeck.co.id/spesifikasi/ royalmpo/