Ditulis oleh: PixelScribe
Ketika Masa Depan Digital Mengetuk Pintu Indonesia
Di balik gempita teknologi global, nama Worldcoin mencuat sebagai proyek ambisius dengan janji futuristik: memberikan identitas digital universal berbasis biometrik kepada seluruh umat manusia. Digagas oleh Sam Altman—figur sentral di balik OpenAI—Worldcoin menggabungkan mata uang kripto, sistem verifikasi manusia asli, dan konsep decentralized identity. Namun, ketika proyek ini mendarat di Indonesia, sambutan yang semula meriah segera berubah menjadi polemik.
Worldcoin dan World ID: Visi dan Teknologi di Baliknya
Worldcoin berdiri di atas dua pilar utama:
- Worldcoin (WLD), token kripto yang dibagikan sebagai insentif.
- World ID, identitas digital yang didapat setelah pemindaian iris mata pengguna melalui alat bernama Orb.
Orb, bola logam futuristik yang disebut-sebut bisa membedakan manusia asli dari bot AI, digunakan untuk memindai iris. Data hasil pemindaian diklaim tidak disimpan, melainkan dikonversi menjadi kode kriptografi menggunakan teknik zero-knowledge proofs. Dengan World ID, pengguna bisa melakukan login ke berbagai platform tanpa menyerahkan email, nama, atau bahkan foto.
Secara teori, ini adalah revolusi di tengah dunia digital yang banjir bot dan deepfake. Namun, pertanyaan besarnya tetap: apakah benar seaman dan seetis itu?
Indonesia: Ladang Uji Coba atau Eksperimen Digital Skala Massal?
Di Indonesia, Worldcoin memulai ekspansi sejak awal 2025. Jakarta menjadi titik peluncuran Orb pertama, disusul kota-kota lain. Sistemnya tampak sederhana:
- Unduh World App, login.
- Buat janji temu di lokasi Orb terdekat.
- Lakukan verifikasi iris, dapatkan World ID.
- Klaim token WLD, yang bisa mencapai 43,08 token/bulan selama setahun.
- Tarik dana ke rekening bank melalui layanan pihak ketiga seperti TransFi.
Banyak pengguna muda, terutama dari komunitas kripto, merasa proyek ini menguntungkan. Mereka bisa menukar token hingga Rp300.000 per bulan, dan sisanya dikunci dalam sistem vesting selama 12 bulan.
Namun, fakta bahwa insentif diberikan setelah pemindaian biometrik membuat publik dan regulator bertanya-tanya: ini transparansi, atau bentuk barter data?
Kontroversi yang Menghantui: Dari Spanyol, Kenya, hingga Bekasi
Proyek Worldcoin bukan tanpa noda. Investigasi MIT Technology Review (2022) menyebutkan bahwa Worldcoin telah melakukan praktik manipulatif dalam pengumpulan data biometrik di negara-negara berkembang seperti Kenya, Indonesia, dan Chili. Beberapa pengguna mengaku ditawari AirPods tanpa penjelasan utuh soal penggunaan data mereka.
Di Kenya, proyek ini dihentikan setelah investigasi pemerintah. Di Eropa, Prancis dan Inggris menaruh Worldcoin dalam radar pengawasan ketat. Bahkan, pada 2023, terjadi kebocoran data akibat kredensial operator internal diretas—mengguncang reputasi proyek yang menjual diri sebagai sistem “paling aman”.
Indonesia, sayangnya, seperti terulang sejarahnya. Pada awal Mei 2025, Komdigi membekukan izin Worldcoin dan World ID. Alasan utamanya?
- PT Sandina Abadi Nusantara sebagai penyelenggara sistem elektronik tercatat sah, tapi ternyata digunakan untuk mengoperasikan layanan yang dioperasikan oleh perusahaan lain.
- PT Terang Bulan Abadi, mitra lokal lainnya, belum terdaftar sebagai PSE sesuai regulasi.
Kondisi ini menyebabkan layanan Orb di Depok dan Bekasi mendadak tutup. Banyak warga yang sudah mengantre dengan janji temu, kecewa berat.
Worldcoin dan Narasi Kolonialisme Digital
Kritikus seperti Santiago Siri dari Proof of Humanity menyebut proyek ini sebagai bentuk kolonialisme digital: ekspansi data biometrik ke negara-negara dengan regulasi lemah, demi membangun sistem yang (lagi-lagi) dikendalikan perusahaan di Silicon Valley.
Di satu sisi, Worldcoin menjanjikan inklusi finansial dan identitas digital universal. Tapi di sisi lain, kritik menyebut bahwa proyek ini memperdagangkan data biologis manusia—sebuah sumber daya baru yang mungkin lebih berharga dari minyak.
Refleksi dan Kesimpulan: Dunia Belum Siap, Termasuk Indonesia
Worldcoin berdiri di persimpangan antara utopia teknologi dan distopia etika. Apakah proyek ini solusi untuk krisis identitas digital global, atau hanya cara baru Silicon Valley menambang data dari penduduk dunia?
Indonesia, sebagai negara dengan penduduk digital terbesar keempat di dunia, menjadi target ideal. Namun regulasi kita belum sepenuhnya siap menghadapi proyek sebesar ini. Komdigi patut diapresiasi karena tanggap membekukan layanan Worldcoin sebelum terjadi pelanggaran yang lebih dalam.
Jika Worldcoin ingin bertahan, maka transparansi, kepatuhan hukum, dan etika harus menjadi landasan—bukan sekadar janji.
